Cari Blog Ini

Tampilkan postingan dengan label Cerita Hantue. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Hantue. Tampilkan semua postingan

Rabu, 28 November 2012

PESUGIHAN BUTO IJO



Sore itu Ana dan suaminya, menerima telefon dari kakaknya yg memintanya untuk menjenguk uwaknya yg sedang sakit keras di kampung. Keesokan harinya Ana dan suami segera bergegas untuk pulang kampung dan langsung menuju rumah uwaknya. Di rumah uwaknya telah berkumpul beberapa kerabat dan kyai. Semua yang berada di di dalam rumah tengah melantunkan ayat suci Alquran.
Uwak Ana suda

h lama sakit keras, namun tak kunjung meninggal dikarenakan buto ijo peliharaannya tidak sempat dibuang atau di wariskan. Tubuhnya yang kurus tinggal tulang berbalut kulit. Sehari-hari uwak cuma berbaring saja di tempat tidur dan sudah tidak mampu bicara lagi. Setiap kali mencoba untuk berbicara yang keluar dari mulutnya cuma erangan saja. Sepertinya dia menahan kesakitan yang teramat sangat.
Setiap kali kyai masuk untuk melihat keadaannya, uwak akan langsung mengerang. Terlihat sangat marah dan matanya melotot ke arah si kyai. Sejauh ini beberapa kyai belum mampu untuk mengusir buto ijo itu yang telah mendarah daging dengannya. Buto ijo itu masih setia dengan menunggui tuannya yang sudah tidak berdaya dengan nangkring di atas tempat tidur yang berkelambu warna hijau.
Sebelum Ana masuk untuk menjenguk uwaknya, kakaknya berpesan untuk selalu membaca ayat kursi. Setelah masuk dan menutup pintu Ana berjalan mendekati uwaknya yg tengah berbaring dengan muka memaling membelakangi Ana yang tengah duduk disampingnya. Dengan sangat hati-hati Ana memulai bicara.
"Wak, uwak… Ini Ana, Wak."
Uwak Ana langsung menoleh ke arahnya secara sepontan langsung mencengkram dan menarik tangan Ana sambil mengerang geram. Hal itu membuat Ana kaget dan ketakutan.
"Apa Wak? Ada apa, Wak?” tanya Ana dengan bibir bergetar.
Uwak Ana terus menggerang. Cengkeraman tangsnnya semakin kuat dan menarik Ana untuk mendekat ke arahnya. Ana semakin ketakutan ditambah dengan kondisi uwaknya yang berambut panjang acak- acakan dan mata melotot yang sedari tadi menggerang terus. Ana begitu kesakitan menahan cengkeraman di tangannya. Ia berharap uwak akan melepaskan cengkramannya.
"Iya.. iya," jawab Ana.
Bersamaan dengan itu tangan Ana merasa seperti kesetrum. Ana menjerit kesakitan. Secara reflek dia langsung menarik tangannya dari cengkraman uwaknya dan buru buru keluar meninggalkan kamar itu.
Tak berselang lama uwak Ana meninggal . Semua orang bersujud syukur karena uwak bisa lepas dari penderitaan hidupnya. Setelah prosesi pemakaman selesai keesokan harinya Ana dan suami pamit untuk pulang ke kota.
Sampainya di rumah, suami Ana langsung pergi mandi. Tidak berselang lama ponsel suaminya berdering.
"Mas ada telpon!" teriak Ana
Tapi tidak mendapat jawaban karena suaminya mandi sambil bernyanyi. Ponselnya berdering hingga dua kali. Anapun membiarkannya. Karena tidak ada yang menerima panggilan telepon itu, tidak lama kemudian ada SMS masuk. Diambilnya ponsel suaminya dan dibuka. Ternyata ada pesan dari Lisa. Ana terlihat marah. Usai suaminya mandi Ana langsung menanyakan ada hubungan apa dirinya dengan Lisa. Tetapi suaminya malah marah-marah karena Ana tlah lancang membuka pesan di ponselnya. Ana yang masih berdiri di pintu kamar mandi dengan menahan emosi sambil melihat suaminya yang sedang mencuci tangan. Ketika suaminya melihat ke kaca di depannya, dia kaget setengah mati melihat wujud Ana yang berdiri di belakangnya telah berubah wujud menjadi buto ijo. Tidak lama Ana berlalu meninggalkan suaminya yg masih terbengong bengong menatapnya.
Siang itu Ana hendak membuntuti kemana suaminya pergi. Setelah beberapa saat suaminya melajukan mobil. Ana buru buru menstater mobilnya hendak mengikuti dari belakang. Tetapi begitu mau jalan tiba-tiba mobil Rian, tetangganya, menghadang jalannya.Ana berkali kali membunyikan klakson mobilnya tapi Rian tidak mau beranjak pergi. Dengan sangat emosi Ana turun dari mobil menghampiri Rian. Namun ketika Rian melihat ke kaca spion, sesosok yg sedang berjalan menghampirinya itu bukan Ana melainkan buto ijo. Ana langsung menghentakkan tangannya ke pintu mobil yang kacanya tengah terbuka.
"Kamu mau mati ya!" bentak Ana.
Rian kaget dan ketakutan langsung buru buru menstater mobilnya meninggalkan Ana. Tetapi percuma saja karena Ana telah kehilangan jejak suaminya. Setelah berputar putak tak juga menemukan jejak suaminya. Dengan sangat kesal Ana pulang ke rumah.
Keesokannya Ana hendak pergi ke suatu tempat. Saat di perjalanan Ana kembali bertemu Rian yang sedang masuk ke dalam salon bersama temannya. Ana buru-buru mengejarnya. Akhirnya terjadilah pertengkaran antara keduanya hingga Rian mengusir Ana keluar dari salon. Memang Ana keluar tapi tidak beranjak pergi. Ana masih merasa kesal dengan sikap Rian kemarin. Ana yang menahan emosi menatap tajam ke arah Rian.
Ketika pemilik salon hendak memulai memotong rambut Rian, tiba-tiba ponselnya berdering. Dia pun mengangkatnya. Rian yang duduk sambil bersandar di kursi mengambil handuk kecil warna putih dan menutupkannya di mukanya sambil menunggu pemilik salon selesai menerima telpon. Sementara temannya asyik membaca koran sehingga wajahnya nyaris terbenam ke situ.
Beberapa saat kemudian, entah dari mana datangnya, di samping Rian telah berdiri sesosok buto ijo. Gunting yg hendak digunakan untuk memotng rambutnya tiba tiba seketika… cress! Ternyata gunting itu justru memotong leher Rian. Darah segar muncrat kemana-mana hingga mengenai jendela kaca tepat di depan Ana berdiri. Ana langsung teriak histeris ketakutan dan langsung meninggalkan tempat salon. Teman Rian pun panik. Dia menyangka Rian tengah melakukan tindakan bunuh diri. Seketika salon itupun heboh.
Setelah memarkirkan mobilny di garasi, Ana berlari masuk rumah. Ia agak heran ketika melihat mobil suaminya sudah ada di garasi. Biasanya jam segini suaminya belum pulang kerja. "Mas.. Mas, kamu dimana?” teriakAna yang masih dilanda ketakutan.
Tapi tak mendapatkan jawaban. Ketika memasuki ruang tamu Ana mendengar ada yang sedang bercanda di lantai atas. Dengan sangat penasaran Ana menaiki anak tangga. Di kamar tidurnya dengan pintu yang tidak tertutup rapat Ana mendapati suaminya tengah bersama Lisa, sedang bercanda mesra sambil makan coklat. Ana sangat marah dengan mata kepala sendiri menyaksikan suaminya selingkuh dengan Lisa. Dengan penuh emosi Ana menatap tajam ke arah mereka. Tiba tiba ada sesosok buto ijo telah berdiri di samping suaminya dan mencekik lehernya. Lisa begitu panik melihat teman selingkuhannya sedang mengalami sakaratul maut.
"Mas, kamu kenapa? Kamu kenapa?” teriak Lisa sambil mengguncang guncangkan tubuhnya.
Sesaat kemudian buto ijo itu menoleh ke arah Ana dan itu membuat Ana tersadar. Seketika itu Ana teriak histeris ketakutan melihat sosok buto ijo dan langsung lari keluar dari rumah. Bersamaan dengan teriakan Ana,buto ijo itu melepaskan cengkramannya. Ana langsung menelpon kakaknya yang di kampung dan menceritakan kejadian beberapa hari ini yang di alaminya. Oleh kakaknya Ana dimintanya untuk pulang kampung hari itu juga.
Disana kakaknya sudah mengundang beberapa kerabat dan seorang kyai. "Ana, sebelum uwak meninggal, apa uwak ada bicara sama Ana?” tanya kakaknya.
Ana mencoba mengingatnya kembali. "Iya kak, ada. Tapi Ana tidak paham apa yang ingin uwak sampaikan," jawab Ana.
Ternyata tanpa di sadari oleh Ana,buto ijo peliharaan uwaknya telah berpindah tuan pada diri Ana.
Malam itu juga Ana dirukyah. Seketika Ana seperti orang yang tengah kerasukan makhluk halus. Dia menggeram geram dan terus meronta- ronta. Semua orang membacakan ayat suci Alquran. Tiba tiba suara Ana berubah menjadi berat dan datar.
"Aku tidak mau pergi. Kalian jangan mencoba untuk mengusirku kalau kalian tidak mau mati sia sia. Dia tuanku," bentak Ana.
"Bukan, dia bukan tuanmu. Dia tidak mau kamu ikuti," jawab kyai.
Mendengar jawaban kyai Ana menggeram marah dan meronta ronta. Semua orang yg memeganginya dibuatnya kewalahan karena tenaga Ana begitu kuat.
Akhirnya oleh kyai,buto ijo itu dikeluarkan dengan paksa. Sekilas buto ijo itu menampakkan wujudnya. Dia merangkak di tembok dengan posisi terbalik. Semua orang bergidik ngeri melihat wujudnya yang menyeramkan. Sebelum lenyap buto ijo itu menggeram panjang. Bersamaan itu muncul sinar warna hijau yg berputar sesaat kemudian jatuh di atas meja dan berubah menjadi belalang hijau. Oleh seorang kyai belalang itu dimasukkan ke dalam gelas dan ditutup rapat.
Semasa hidupnya, uwak Ana memang terkenal orang terkaya di kampung.dia sangat sombong dan angkuh. Orang orang sangat takut jika mempunyai masalah dengannya.apalagi sampai membuatnya marah karena buto ijo peliharaannya akan langsung menghabisi nyawa korban. Sudah banyak yang menjadi korbannya. Hal itu sama dengan yang dialami oleh Ana. Setiap kali Ana marah maka buto ijo itu akan menampakkan wujudnya dan menghabisi nyawa korban. Karena Ana dari awal memang tidak menginginkan buto ijo itu ikut dengannya maka dengan mudah kyai dapat dapat melenyapkannya. Ana bersyukur kini tak lagi di ikuti buto ijo . Meski pada akhirnya ia kehilangan suaminya yang tetap memilih Lisa, namun setidaknya sekarang Ana tidak perlu risau karena ulah buto ijo itu.
Sekian, makasih.

GAUN PUTIH BERNODA MERAH



Waktu sudah menunjukan pukul 00.00. namun entah mengapa mataku enggan terpejam. Kubuka kembali tirai jendela kamarku. Remang-remang bulan dan pohon rambutan di depan rumahku menghiasi malam itu. Walaupun begitu sunyi, namun seakan-akan pohon rambutan itu digelayuti mahluk-mahluk putih sambil tersenyum padaku. Segera kutepis bayang-bayang itu. Kututup

kembali tirai jendelaku.

Lalu aku beranjak menuju kamar mandi. Saat itu aku berada di rumah sendiri. Karena ayah, ibu, dan adikku sedang berada di jogja, dirumah nenekku. Niatku untuk buang air kecil, dan mencuci muka mandadak meredup. Seakan-akan saat aku berjalan menuju kamar mandi, dibelakangku aku terperanjak bagaikan seseorang sedang mengamatiku. Betapa kagetnya aku, sesuatu terjatuh dari atas ruang dapur. Berwarna putih bersih, beraroma anggur. Dan dihiasi gambar hati di bagian bawahnya. Seperti gaun putih. Lalu kuambil gaun itu. Indah sekali. Namun lumayan berat. Di bagian bawah, dan di bagian dalam tertulis “Siromana.” Pikirku, mungkin ini adalah nama dari pemilik gaun ini.

Namun aku berpikir, dari mana gaun ini jatuh? Lalu kubawa gaun tersebut ke kamarku. Ku amati lagi gaun itu. Kutempel-tempelkan ke tubuhku, sambil aku berkaca. Betapa indahnya. Namun aneh, di bagian tengah gaun itu, ada noda berwarna merah. Lalu ku cium noda merah itu. “ acchhrr… berbau anyir dan berbau anggur…” pikirku saat itu. Namun ada niatku untuk memiliki gaun itu. Akan ku cuci keesokan hari. Dan ku pakai pada acara pesta dansa malam Valentine di Villa Deski minggu depan. Pasti aku akan kelihatan cantik jika aku mengenakan gaun itu. Lalu, mataku mulai mengantuk. Dan ku simpan kembali gaun itu ke dalam lemariku. Dan aku beranjak tidur ke atas kasur di kamarku.

Pagi sekali aku sudah terbangun dari tidurku. Perlahan ku langkahkan kakiku menuju ke kamar mandi. Kubasuh mukaku. Kutatap wajahku di kaca kamar mandi. “ ASTAGAA!!!” teriaku. Karena ku lihat ada bayangan wanita memakai gaun putih di pantulan kaca itu. Segera aku membalikkan tubuh dan melihat ke belakangku. Apa aku salah lihat? Karena tak ada seorang pun di belakangku. Mungkin ini hanya khayalanku. Tetapi rasanya aku kenal gaun yang di pakai wanita itu. Ya, itu gaun yang aku temukan malam tadi. Lalu aku bergegas berlari menuju kamarku. Ku buka lemariku. Ternyata gaun itu masih tetap ada di lemari kamarku. Lalu ku ambil gaun itu. Dan ku amati kembali. Ku lihat noda merah itu semakin banyak, padahal tadi malam noda ini belum selebar ini. Kubawa gaun itu ke kamar mandi, dan kucuci.

Tapi aneh, air yang bekas cucian gaun itu, tak berwarna merah. Padahal gaun tersebut ternoda merah. Aku penasaran dengan noda itu. “apa noda merah ini?” pikirku. Ku cium, dan ku pejamkan mataku. Saat aku memejamkan mata, sketsa peristiwa seperti terlintas di pikiranku. Entah dari mana namun itu seperti nyata. Aku seperti melihat, sesosok gadis belanda yang amat cantik mengenakan gaun ini, dan berdansa. Senyumnya manis sekali. Sepertinya dia berdansa di dalam acara sebuah pesta dansa. Dan di peristiwa itu, sepertinya tempatnya berada di rumah ini, di ruang tengah. Lalu segera ku buka mataku. Aku sedikit takut. Lalu segera ku jemur baju itu di belakang rumahku.
***

Yap, hari yang ku tunggu-tunggu telah tiba. Hari ini adalah hari Valentine dan nanti malam aku akan menghadiri acara pesta dansa di Villa Deski. Aku bingung apa aku harus menngenakan gaun yang amat indah itu? Aku takut aku terlalu mencolok pada malam nanti. Tetapi tak apa, aku memang kepingin sekali mengenakan gaun ini.
Waktu sudah menunjukan pukul 19.00. segera aku bersiap-siap berhias diri. Ku bedaki wajahku, kusisir rambutku, dan ku ambil gaun ku didalam lemari kamarku. Perlahan ku kenakan gaun itu. “ waw… great! Very beautiful!” aku terlihat cantik sekali. Aku menari-nari bahagia. Aku juga bernyanyi-nyanyi. Aku merasa wanita paling cantik di dunia saat aku mengenakan gaun ini. Tetapi entah mengapa mendadak kepalaku pusing. Perutku mual. Dan aku tak bisa melihat dengan jelas, hanya remang-remang. Dan aku terjatuh. Lalu pingsan. Saat aku pingsan, aku seakan masuk ke dalam dimensi lain. Aku berjalan di suatu acara malam pesta dansa. Namun aneh sepertinya tak ada satu orangpun yang mengetahui keberadaanku. Padahal saat itu aku berada di suatu keramaian. Dan memang acara itu sepertinya di adakan di rumah baruku ini, oleh orang-orang Belanda. Aku mengikuti seorang wanita yang memakai gaun yang gaunnya itu persis seperti gaun yang aku kenakan saat ini. Ku ikuti geraknya. Dia terlihat sedang berdansa dengan kekasihnya.

Lalu dia duduk dan meminum anggur dengan kawan-kawan dan kekasihnya. Tetapi kulihat, salah satu temannya melirik dan tersenyum kepada kekasihnya. Ya temannya itu begitu aneh tingkahnya. Lalu saat wanita itu hendak meminum anggur dan bersulang, tiba-tiba temannya menyenggol gelas yang di bawa wanita itu dan tertumpah ke Gaun wanita itu. Dan aku juga melihat kekasihnya mengajak wanita itu ke dalam kamar. Tetapi sungguh aneh, teman wanita tadi mengikuti gerak mereka berdua ke dalam kamar. Dan saat kekasihya membaringkan dia ke ranjang tiba-tiba “ craaaaasssshhh” aku menjerit. Wanita itu di tusuk pisau oleh kekasihnya sendiri. Lalu temannya itu segera memunculkan diri, dan meludahi wanita yang tak berdaya tadi. Kulihat noda anggur tadi sudah tertutupi oleh noda merah darah. Perlahan wanita itu lemas dan tewas.

Ingin ku bantu wanita tadi, tetapi aku tak dapat menyentuhnya. Lalu mayat wanita itu di sembunyikan dan di kubur oleh mereka di dekat pohon rambutan yang ada di depan rumah. Namun sebelum mereka mengubur mayat itu, kulihat gaun yang dikenakan wanita tadi dilucuti, dan di ambil oleh temannya. Mereka tertawa. Betapa kejamnya pikiriku. Kekasih tega membunuh demi berselingkuh dengan kekasih sahabatnya sendiri. Lalu aku terbangun aku merasa sedikit pusing. Saat aku terbangun kulihat remang-remang ada sesosok bayangan. Ya, aku kenal bayangan itu. Itu adalah wanita yang ada di mimpiku tadi. Dia menatapku. Sepertinya dia ingin aku mengikutinya. Lalu ku ikuti wanita tadi. Sepertinya dia menuju ke arah pohon rambutan yang ada di depan rumah ku itu. Sampai di sana, dia membalikkan tubuhnya dan menatap ke arahku. Dia tersenyum. Lalu tangannya menunjuk ke arah gaun yang aku kenakan saat itu. Lalu ,menunjuk ke arah tanah tempat mayatnya di kubur. Ya, aku mengerti. Mungkin dia memberi kode untuk menguburkan gaun itu kedalam kuburannya.
“ kau ingin gaun ini aku kuburkan ke dalam sini?” tanyaku sambil menunjuk kea rah kuburan itu.

Kulihat dia mengangguk. Lalu aku bergegas menuju kamar. Kulucuti gaun itu. Dan aku kuburkan ke dalam tanah tadi. Dan ku timbun kembali. Tiba-tiba wanita itu muncul kembali, dan dia sepertinya meneteskan air mata dan tersenyum padaku. Kulihat ia terbang ke atas langit. Ia semakin tinggi, lalu ia sirna. Kupikir, pasti dia sudah tenang. Aku merasa bahagia. Lalu aku kembali menuju ke rumah. Saat aku menutup pintu, tiba-tiba mobil ayahku datang. Ternyata mereka sudah pulang dari jogja.
“ Viona, ini mama bawakan oleh-oleh, sini sayang!”
“ iya ma, apa itu?”
“ ini sayang, gaun putih, indah kan?”
Betapa kagetnya aku, gaun itu mirip sekali dengan gaun Siromana. Aku tersenyum. Kucium gaun itu. lalu kuangkat. “ iya ma. Bagus sekali, aku suka gaun ini… namun tak berbau anggur…” ucapku saat itu.

**SELESAI

...Ruh Penunggu Jalan Lingkar...



Angin malam berdesir menyebarkan hawa dingin yang sangat menyengat. Di sana-sini masih terlihat sisa tetes- tetes air hujan membasahi daun pepohonan di sepanjang jalan setapak itu.Sementara di balik gelapnya malam, samar terdengar suara burung-burung malam mengalunkan nada sendu yang mampu mendirikan bulu roma yang mendengarnya.Sesosok tubuh hitam, tampak berjalan tert

atih-tatih.Ia mencoba menembus gelapnya malam. tangan kirinya tampak menjinjing sebuah bungkusan kecil, sedangkan tangan kanannya memegang sebuah senter kecil yang sudah redup. Ia terus berjalan tanpa menghiraukan dinginnya malam.Nyanyian burung malam terdengar makin memilukan, menambah seramnya suasana malam itu. Sosok tubuh hitam itu ternyata Sarwono yang sedang dalam pejalanan pulang setelah selesai memberikan pengajian di sebuah desa di luar kota. Karena pada musim hujan jalan yang dilalui selalu becek dan licin, terpaksa sepeda motornya ditipkan pada seorang kenalannya di pinggiran kota.Sedangkan dia cukup berjalan kaki menuju desa yang menjadi tujuannya.Tak terasa, perjalanannya telah dua pertiga terlampaui. Rumah kenalannya sudah tidak jauh lagi. Dan Sarwono mempercepat langkahnya. Tiba-tiba disebuah tikungan,tidak jauh dari sebuah kuburan perkampungan, Sarwono melihat bayangan seorang wanita berjalan tepat di depannya.Sekejap, Sarwono merasa bergidik. Hatinya bertanya-tanya, darimana munculnya perempuan yang berjalan di depannya itu ? Ia yakin, tempat itu jauh dari rumah penduduk. sehingga mengherankan, apabila malam-malam yang gelap dan menakutkan itu, masih ada seorang wanita berkeliaran seorang diri di tempat yang sangat sunyi.Namun pertanyaaan dan rasa heran itu berangsur-angsur lenyap, manakala Sarwono makin dekat dengan wanita di depannya. Secara samar, tercium bau harum menerpa hidungnya yang kembang kempis mencari dari mana sumber aroma harum itu.Semakin dekat jarak Sarwono dengan wanita yang ada di depannya, semakin menyengat aroma harum mewangi itu menerpa penciumannya. Sarwono tau sekarang, wanita di depannya itulah yang menyebarkan aroma wangi. Hal itu membuat Sarwono semakin penasaran untuk mengenali wanita itu.Sarwono semakin penasaran. Kurang dari satu meter jarak Sarwono dengan perempuan itu, tiba-tiba wanita itu menoleh dan tersenyum manis sekali. Sarwono jadi salah tingkah. Sebagai seorang laki-laki yang belum pernah berpacaran di beri senyuman seorang gadis, menyebabkan hatinya melambung jauh. Demikian yang terjadi dengan Sarwono. Tanpa di komando, dia segera mendekati.Sarwono akhirnya bisa berkenalan dengan wanita itu. Entah karena apa, Sarwono tidak keberatan sewaktu diajak singgah ke rumah wanita yang baru di kenalnya itu. Ialupa pada prasangka yang muncul, sewaktu wanita itu tiba-tiba nampak di depannya. Ia lupa bahwa saat itu ia ada di tepi jalanan sepi yang jauh dari rumah penduduk.Saat itu, yang di ingat Sarwono hanyalah bisa berkenalan dengan gadis ayu yang sangat menyenangkan. Tiba di rumah sang gadis, langsung saja Sarwono dipersilahkan duduk. Rumah gadis itu sangat luas, dengan berbagai tanman yang tumbuh di sekitar rumah. Belum sempat Sarwono mengamati rumah gadis itu, tiba-tiba lampu di rumah gadis itu mendadak padam.Sampailah suatu saat gadis itu beranjak dari tempat duduknya, kemudian melangkah masuk ke dalam kamar. Tidak berapa lama, gadis itu muncul kembali bersamaan dengan tersebarnya aroma kembang kuburan dan bau amis darah. Sarwono kaget bukan kepalang. Gadis itu sekarang berdiri, membelakanginya. Sarwono mendekat kemudian menanyakan apa yang terjadi. “Kamu jangan menyesal bertanya seperti itu,” suara gadis itu terdengar sangat memelas. Tiba-tiba dia membalikan badannya, dan hampir saja Sarwono pingsan di buatnya. Gadis ayu yang baru dikenalnya itu, telah berubah menjadi sosok wanita yang sangat mengerikan. Kepalanya penuh luka. dan dari luka-lukanya itu, tampak darah segar menetes . Mengerikan dan menjijikkan Sarwono di antara sisa keberaniannya.“Dari jalan lingkar di luar kota. Sebulan yang lalu, aku tertabrak sebuah truk yang melaju kencang . Aku sakit! Sakit!… Sakit!,” Dan gadis itu berteriak. Diakhir teriakannya, sayup -sayup terdengar suara tangis yang sangat menyayat hati. Bersamaan dengan itu, suasana berubah menjadi gelap pekat . Aroma kembang kuburan semakin kuat menyengat hidung Sarwono.Untunglah Sarwono bukan tipe laki-laki penakut yang mudah jantungan. Hatinya cukup tabah. Karena pada dasarnya, Sarwono seorang guru ngaji, peristiwa yang menakutkan itu tidak menbuatnya kehilangan akal. Setelah menyadari apa yang terjadi, tahulah ia telah mendapatkan dirinya di tengah-tengah kuburan. Di hadapannya terdapat gundukan makam yang masih baru. Sarwono bukannya takut, ia malah berdoa supaya arwah gadis yang dikenalnya tadi dijauhkan dari siksa kubur.

..Bu Bidan Ani...





Aku sudah satu tahun ditugaskan pemerintah, menjadi bidan desa di kecamatan Tegalgondo, tepatnya di Desa Tahunan, sejak tahun 2000. Aku berasal dari Kota Nganjuk, provinsi yang sama juga. Perkenalanku dengan Mas Hardi, akhirnya membuatku hidup menetap di daerah terpencil tersebut dalam ikatan perkawinan. Aku dan Mas Hardi sama-sama perantauan. Ia bertugas m
engajar di SD Tahunan, dan aku menjadi bidan desa di sana. Bedanya dia berasal dari kota Kediri, dan saya dari kabupaten Nganjuk.

Perkawinanku telah membuahkan dua orang putra, yang kini telah lulus dari SMA, dan yang kecil baru kelas dua SMP di Tahunan juga. Pertama kali aku membangun rumah, ada pengalaman unik yang pernah aku alami, hi ngga kini menjadi catatan manis dalam keluargaku.

Suatu malam, sekitar jam satu malam, tempat praktikku, kedatangan seorang ibu yang berjalan tertatih-tatih dalam keadaan hamil mengetok pintu rumahku. “Bu Bidan, maaf ya saya mengganggu… tolonglah ibu… saya mau melahirkan … ” pintanya, sambil memgang perut yang telah membesar.

Aku segera membangunkan Mas Hardi agar mau membantuku, menyiapkan segala sesuatu yang berkaitan proses persalinan. “Ibu kok sendirian…” tanyaku sambil membenahi dipan persalinan. “Iya bu, suamiku masih di Tegalgondo…”

Aku tidak mau berpikir banyak. Ibu muda yang akan melahirkan itu segera aku bimbing berbaring pada dipan persalinan di ruang praktikku. “Oek…oeeek….oek!!!!” tangis bayi itu memecah kesunyian malam yang telah beranjak dari jam satu menuju jam dua seperempat. Aku segera membersihkan bayi dan ibunya sesuai dengan prosedur pelayanan kesehatan yang sudah biasa aku lakukan. Sementara suamiku, tertidur lelap di kursi tamu, setelah selama satu jam lebiah ia menunggu.

“Bu, maaf ya bu… malam hari ini saya sudah ngrepotin ibu. Suami saya kebetulan pas pulang ke Tegalgondo. Jadi malam hari ini saya belum bisa melunasi administrasi keuangannya. Tapi anu kok Bu… suami saya tadi siang sudah pesan, kalau malam ini saya melahirkan… ibu bisa mengambil uangnya di Tegalgondo…”

“Sudahlah ibu… ibu nggak usah memikirkan itu dulu. Yang penting kesehatan ibu baik-baik saja….” kataku bijaksana.

“Terus, anu ya bu… saya ingin malam ini diantar pulang saja ya… “

“Oh iya, nggak apa-apa”

Akhirnya aku membangunkan suamiku, untuk mengantar Bu Mugi pulang ke rumahnya, tidak jauh dari rumahku. Di sepanjang jalan mobilku terasa enak sekali. Jalan yang aku lalui terasa datar, seperti di kota saja. Perasaanku pada waktu itu, ruang mobil beraroma seperti kembang yang biasa dibuat untuk tabur bunga di pusara. Suamiku diam saja. Dia juga merasakan hal yang sama. Dan akhirnya tidak berapa lama mobil itu sudah berada di depan rumah Pak Mugi.

“Mari Bu, aku bimbing masuk rumah. Mana kunci rumahnya?”

“Nggak terkunci kok Bu. Sudahlah, ibu nggak usah membantu. Aku bisa berjalan masuk sendiri kok”

Akhirnya Bu Mugi berjalan dan masuk rumah sendirian. Aku dan suamiku hanya bengong melihat kejadian malam itu. Aku tidak bisa berbuat apa-apa. “Sudah mas, ayo kita segera pulang saja. Besok pagi aku akan ke Tegalgondo…”

Malam semakin larut. Kokok ayam pertanda hari sudah pagi, mulai riuh terdengar bersautan. Aku segera membangunkan suami dan anak-anak untuk sholat Shubuh berjamaah di suarau dekat rumahku. Sekitar jam tujuh pagi aku segera mengambil sepedamotor, menemui Pak Mugi di Tegalgondo.

“Assalamu’alaikum Bapak!”

“Wa’alaikum salam!. Mari Bu Bidan masuk!!” sambut Bu Sainem, orang tua Pak Mugi

“Selamat ya Bu… tadi malam istri Pak Muji melahirkan anak laki-laki…” kataku memberi kabar

Bu Sainem terlihat heran, dan bingung. “Maaf Bu Bidan, apa nggak salah…???”

“Benar , ibu. Tadi malam cucu ibu telah lahir, ini lho saksinya suami saya…”

“Betul bu… istri Pak Mugi telah melahirkan di rumah saya…” jelas suamiku jujur

“Tapi begini lho Bu, anakku Mugi itu hingga kini belum punya istri lho. Dan rumahnya yang di Tahunan itu tidak pernah ditempati”

“Jad…jadi…jadi… siapa tadi malam itu????”

Aku jadi penasaran dibuatnya. Aku segera berpamitan pulang. Sesampai di rumah, ternyata tempatku praktik masih dalam keadaan bersih. Seperti tidak pernah ada orang yang baru melahirkan. Demikian juga rumah kosong milik Pak Mugi, juga kosong melompong tiada satupun penghuninya. “Haaaa” aku dan suamiku bulu kuduknya merinding…

...KOS BERHANTU...




Aku menempati kamar kosku yang baru di kawasan sekitar kota dekat kampusku. Biaya perbulanya agak sedikit mahal ya tentu saja karena dekat dengan Kampus. Ruangannya nyaman untuk di tempati untuk mahasiswa sepertiku. Ruangan itu di cat hijau lembut. Kamar itu berukuran 3x3 meter persegi. Ada satu tempat tidur beserta bantal dan gulingnya, satu lemari plastik,

satu set meja belajar, dan juga tentu saja ada kamar mandi.

Aku segera menata baju-bajuku, perlengkapanku, memasang seprai untuk tempat tidur, meletakan buku-bukuku di rak meja belajar. Setelah selesai aku istirahat sebentar sambil membuka laptopku dan menyalakan musik kesukaanku. Tidak lama kemudian aku tertidur. Sesaat setelah aku tertidur aku melihat ada orang yang berjalan masuk ke kamarku menuju kamar mandi. Aku tidak melihat wajahnya. Dia memakai baju berwarna serba merah. Kulitnya putih sekali. Saat aku terjaga kemudian aku bangun, aku kemudian menuju kamar mandi untuk melihat orang tadi.
“Hei siapa yang di dalam?” Kataku sedikit berteriak
Tidak ada jawaban.
“Heii!! Siapa yang di dalam?” kataku agak sedikit marah karena ada orang yang tanpa ijin memasuki kamarku.
Tidak ada jawaban lagi. Kali ini terdengar suara keran menyala
“Aku akan mendobrak pintu ini! Jika kau tidak menjawab” kataku sambil berusaha membuka pintu yang terkunci itu
Kali ini aku benar-benar akan mendobrak pintu ini. Entah yang di dalam laki-laki atau perempuan aku tak peduli. Urusan nanti dimarahi ibu kos karena merusak pintu kamar mandi itu masa bodoh. Aku sudah merasa jengkel sekarang. Dan, BRAAKKK! Pintu kamar mandi berhasil aku buka. Tapi aneh, tidak ada siapa-siapa di dalam. Kemana orang tadi pergi? Di sini tidak ada jalan keluar selain pintu ini. Apa aku yang salah terhadap pandanganku tadi? Ah ngga salah kok. Keran juga menyala seperti habis di pakai oleh seseorang. Lalu siapa orang tadi? Kemana orang itu pergi? Sesaat angin berhembus pelan menyapu bulu kudukku hingga berdiri. Aku merasa takut. Apa yang terjadi di sini?
***

“Eh mbak lihat orang masuk ke sini ga? Pake barju serba merah. Kulitnya putih banget” Tanyaku pada penghuni kamar kos yang lain
“Engga kok. Semuanya tadi pada tidur siang. Ga ada yang keluar kamar atau berjalan di sekitar sini apalagi masuk kamarmu”
“Haah? Beneran mbak?” rasa takut mulai menyelimutiku
“Iya beneran lah. Tadi yang di luar Cuma kita bertiga. Kita ga lagi bengong. Ada apa sih?”
“Ngga apa-apa kok mbak” kataku sekarang benar-benar takut
***

Aku menyeruput kopi panasku, sambil berusaha melupakan kejadian tadi. Kuputuskan Ruri, sahabatku untuk datang menemaniku sekarang.
“Dit, lo kenapa sih kok murung gitu?” Tanya Ruri
“Gue mau cerita sesuatu ma lo” kataku sambil duduk di tempat tidur
“Lo mau cerita apa?” jawab Ruri

Kemudian aku menceritakan semua kejadian tadi. Setelah selesai. Wajah Ruri tampak seperti sedang memikirkan sesuatu. Kemudian dia tertawa ringan dan mencubit pipiku.
“Haha. Dita, dita! Lo tu ada-ada aja. Mungkin lo lagi kecapekan kali makanya jadi kaya gini” kata ruri
“ah, tapi keranya beneran nyala kok, kayak habis di pakai” Jawabku yang tidak setuju dengan pendapat Ruri
“Udah lah dit. Lo tenang aja. Masa ada setan di siang bolong”
Aku tersenyum kecut. Perkataan Ruri memang ada benarnya. Aku merasa sedikit lebih tenang dan lega. Setelah itu aku dan Ruri memutuskan untuk berjalan-jalan di pusat kota. Benar-benar membuatku melupakan kejadian di kos itu.
Malam harinya, badanku terasa capek sekali. Aku kemudian mandi untuk menyegarkan badanku. Kemudian aku menyalakan laptopku sebentar dan mengirimkan e-mail kepada saudaraku. Menanyakan kabarnya di sana. Karena lelah, aku putuskan untuk tidur. Aku mengunci pintu kamarku supaya tidak ada orang yang masuk. Jendela di kamarku kubiarkan terbuka, Karena udara malam itu sedikit panas.
Malam itu kejadian tadi terulang. Antara masih bermimpi atau sudah terbangun aku kembali melihat orang yang berpakaian serba merah memasuki kamar mandiku. Dan bedanya sekarang orang itu berlumuran darah. Aku takut sangat takut. Aku tidak berani membuka mata. Aku putuskan tetap terpejam sambil berdoa.
***

Pagi harinya aku berniat akan menanyakan hal ini kepada ibu kos. Aku sudah tidak tahan terhadap semua ini. Ketakutanku tidak dapat di sembunyikan. Atau jika perlu aku akan pindah kos yang lebih baik. Jauh dari kesan menyeramkan.
Aku juga bertanya-tanya dari mana orang yang berpakaian serba merah kemarin masuk. Pintu kan sudah aku kunci? Masa lewat jendela? jelas tidak mungkin, karena tidak akan cukup jika di lewati orang. Atau jangan-jangan dia bukan orang melainkan..? ketakutanku makin bertambah
Aku bergegas menuju tempat ibu kos berada. Sesampai disana aku di sambut ramah oleh ibu kos.
“Ada apa dit, kamu mau bayar kos?” kata ibu Kos sedikit bercanda
“Bu, saya mau menceritakan sesuatu” kataku serius
“Cerita apa? Jika tentang hal-hal bodoh ibu tidak ada waktu. Kau lihat kan ibu lagi sibuk?”
“Tapi aku minta waktu sebentar bu. Ini akan sangat membantuku”
“Baiklah apa yang ingin kau ceritakan?”
Aku kemudian menceritakan semua kejadian menyeramkan yang aku alami kemarin. Setelah selesai. Raut wajah ibu kos berubah. Rautnya menunjukan keseriusan. Tidak seperti dugaanku dia akan tertawa.

“Mungkin yang kamu lihat adalah Alessana” ujar Ibu kos
“Siapa itu Alessana ?”
Ibu kos menghembuskan nafas panjang.
“8 tahun yang lalu alessana mati di kos-kosan ini diduga dia bunuh diri karena depresi karena ditinggal kekasihnya yang telah meninggal. Dia anak yang cantik. Dia melukai dirinya dengan pisau. Dia mengalami pendarahan hebat. Hingga dia kemudian di temukan mati menggenaskan di kamar mandi. Hingga sampai sekarang orang yang menempati kamar itu selalu diperlihatkan sosok alessana sedang berjalan di kamar mandi. Hingga belum 2 hari menempati kamar itu orang yang menempati sudah angkat kaki dari kamar itu. Tidak tahan. Pernah juga ada orang yang di perlihatkan sosok Alessa yang berlumuran darah dan menyeramkan…”
Setelah ibu kos selesai bercerita aku benar-benar kaget sekaligus shock. Aku berjanji akan pindah kos-kosan besok paginya. Aku sudah tidak tahan.
***

Malam harinya aku masih tidur di kos itu. Rasanya tidak bisa memejamkan mata mengingat kejadian tadi. Jam sudah menunjukan pukul 11 malam. Sepi sekali suasana di luar. Mungkin penghuni kos yang lainnya sudah tertidur. Hawa dingin tiba-tiba menyergapku. Hembusan angin dari jendela membuatku mengigil. Kututup jendela itu dan kutarik selimutku supaya membuatku hangat. Aku berusaha memejamkan mataku.
Tetapi, aneh. Kenapa suasana di sini menjadi berubah. Tiba-tiba desiran angin berhembus di belakang tengkakku. Membuatku jadi merinding. Tiba-tiba lampu mati. Suasana benar gelap dan aku sendirian. Aku menggenggam selimutku semakin kencang. Aku tidak berani bergerak.
“PYAARR!!” tiba-tiba ada sebuah benda terjatuh. Bunyinya mengagetkanku. Lalu terdengar bunyi derap kaki. “Tap..Tap..Tap” bunyi itu sepertinya makin mendekat ke arahku. Aku tidak bisa melihat siapa itu karena benar-benar gelap. Jantungku benar-benar berdegup kencang sekali. Keringatku mengalir deras di sekitar tubuhku. Aku mulai melafalkan doa-doa memungkinkan kejadian yang tidak enak yang akan terjadi nanti. Ada yang menaiki kakiku. Seperti sebuah beban berat. Aku tidak berani menggerakan kakikku sedikitpun. Kurasakan ada tangan yang mengelus kakikku. Permukaan kulitnya halus aku bisa merasakanya.
Tiba-tiba lampu menyala. Terlihat seorang wanita sedang menatap kosong ke arahku. Mulutnya berlumuran darah. Matanya terlihat seperti sedang menangis. Dan.. wanita itu berjalan semakin mendekati ke arahku. Badanku serasa beku. Aku ingin berteriak tapi tidak ada suara yang keluar.
“Jangan takuut….” Kata wanita itu lembut
“Aku tidak akan menyakitimu..”
“Aku Alessana, aku hanya ingin menyampaikan pesan buatmu. Tolong aku, aku terperangkap di sini. Bebaskan aku, agar nyawaku bisa tenang di sana. Bakar kalung yang ada didekat lemari. Kalung berliontin huruf ‘A’. tidak ada orang yang tau. Sepi,kotor. tolong akuu… aku mohon..” sosok itu tiba-tiba perlahan menghilang. Dan sekarang yang terlihat hanya gelap. Aku begitu shock.
***

Aku tidak sadar, dan tahu-tahu sudah berada di pagi hari. Rupanya aku pingsan tadi malam. Nyawaku rasanya belum terkumpul semuanya. Aku masih kebingungan. Badanku terasa capek sekali. Aku kemudian bangun melihat jam berapa sekarang. Jam sudah menunjukan pukul 10! Ya ampun.. kali ini aku benar-benar kesiangan. Aku menutup wajahku dengan kedua tanganku. Aku bertanya pada diriku sendiri. “Ya tuhan.. apa yang terjadi padaku? Mengapa semua ini terjadi?” aku menghembuskan nafas panjang.
Kemudian aku memikirkan kejadian tadi malam. Wanita yang aku lihat kemarin malam adalah Alessana. Wanita itu membicarakan tentang nyawanya. Nyawanya yang terperangkap di dunia nyata. Dia ingin aku membebaskanya. Dan dia juga membicarakan tentang kalung.. dia menyuruhku untuk mencari kalung dan kemudian membakarnya. Aku bertanya-tanya. Ada apa dengan kalung itu? Kenapa dia ingin aku membakarnya untuk membuat nyawanya bebas? Ahh, tapi aku tidak peduli. Yang terpenting sekarang adalah mencarinya supaya dia dan juga tenang hidupnya. Dia akan terbebas nyawanya menuju alam sana. Dan aku? Tentu saja supaya hidupku tidak diganggu lagi oleh mahluk halus itu.
***

Sudah berjam-jam aku mencari kalung yang di maksud Alessana. Lemari pakaian sudah aku geledah. isinya aku keluarkan semua. Aku cari-cari di sekitar lemari juga tidak ada. Aku bingung. Lemari mana yang di sebut Alessana? Susah sekali mencarinya. Aku memikirkan pesan Alessana lagi. “…Bakar kalung yang ada didekat lemari. Kalung berliontin huruf ‘A’. tidak ada orang yang tau. Sepi,kotor. tolong akuu… aku mohon..”. Kalung yang ada di dekat lemari. Berliontin huruf ‘A’. sepi dan kotor. Tiba-tiba sesuatu terlintas di pikiranku. Kurasa aku sudah menemukan jawabannya. Apa mungkin benar? Jantungku berdegup kencang.
***

Aku sudah sampai di gudang di kos itu. Semoga firasatku benar. Aku mencari barang yang di maksud Alessana. Aku mulai bekerja di sekitar gudang. Banyak debu dan sangat kotor. Aku mulai terbatuk-batuk. Saat aku sedang membuka beberapa bangku yang sudah usang ada tikus yang melewati kakiku. Aku menjerit. Betapa menjijikanya tempat ini. Apa tempat ini tidak pernah di sentuh oleh manusia? Benar-benar menjijikan. Sesaat setelah itu aku melihat lemari besar, cokelat dan tua. Kayu-kayunya sudah lapuk di makan rayap. Firasatku mengatakan agar mendekati lemari itu. Aku segera menggeledah isi lemari itu. Tapi aku tidak menemukan apa-apa. Hanya ada kertas Koran yang sudah lama. Tiba-tiba ada sebuah bola terjatuh dan menggelinding kearah bawah lemari itu. Aku membungkukkan badan untuk mengambilnya. Tapi ketika sampai di bawah, aku tidak lagi menghiraukan bola tadi. Perhatianku tertuju pada kotak cokelat yang terlihat bersih. Aku memungutnya. Perasaanku mengatakan inilah jawabanya. Hatiku berdegup kencang.
Kubuka perlahan kotak itu. Di dalamnya berisi surat. Aku membaca surat itu yang isinya adalah..
“Kepada : Alessana yang kusayangi
Dari : Kekasihmu

Alessana aku benar-benar merindukanmu. Di hari ulang tahunmu yang ke 17 ini maaf aku tidak bisa datang ke tempatmu. Aku hanya bisa memberikan kalung ini. Penyakit leukimiaku sudah mencapai tahap akut. Aku tidak mampu untuk berjalan lagi. Badanku sudah terasa tidak berdaya lagi. Maaf jika sudah mengecewakanmu. Kurasa ini yang terakhir dariku. Akuu….uu mencintttaiymuu..”

Pada akhir kata terlihat bahwa tulisanya berubah menjadi tidak karuan. Aku mendiskripsikan bahwa kekasih Alessana saat menulis kata terakhir itu penyakitnya kambuh. Sehingga kesusahan untuk menulis. Jadi begitu jawabanya. Alessana merasa tidak bebas karena surat dan kalung yang di beri kekasihnya ini. Di kotak itu terdapat kotak kecil lagi berwarna biru tua. Aku membukanya. Ada sebuah kalung berliontin huruf ‘A’ berwarna perak dan mengkilat. Benar-benar cantik.
Tapi aku harus segera membakarnya. Dengan cepat aku melumuri kalung itu dengan minyak tanah. Kemudian membakarnya.
***

Setelah 3 minggu kejadian itu, hidupku terasa tenang. Tidak ada gangguan dari mahluk halus lagi. Aku sudah melupakan kejadian itu. Mungkin Alessana sudah tenang. Tetapi suatu ketika pada malam hari saat aku sedang tertidur, Aku terjaga lagi. Aku melihat bayangan Alessana tersenyum ke arahku. Dia tampak seperti sedang mengatakan sesuatu padaku.
“Terima kasih..Sampai jumpa..” ucapnya
Alessana melambaikan tangan bersamaan dengan itu bayangan Alessana menghilang. Aku tahu Alessana benar-benar tenang sekarang

SEKIAN

...DOA SEORANG ANAK IKAN...




Senja ini, seperti biasa aku menanti kedatangan dua bocah bersaudara itu. Orang yang mungkin sengaja Tuhan kirimkan untuk menjaga dan merawat tempat kami yang selama ini tentram dan damai. Jauh dari hiruk pukuk kekacauan dan hingar bingar sekumpulan manusia tidak berguna. Sampah dan menyampah. Mengacau dan menghancurkan alam. Di balik belukar dan sema

k sejuk itu aku menantinya seorang diri. Harapanku masih mencuat meski terik mentari membakar permukaan bumi. Samar-samar aku menyaksikan permukaan riak air yang tenang. Belum ada tanda-tanda kedatangan mereka. Aku berjalan menuju rumah tetanggaku. Mereka tinggal di lantai lebih bawah dari rumah keluargaku.

“ Hai, Fin. Apa kamu melihat Rafa dan Alfi?” tanyaku pada Fino yang sibuk berkutat didepan mainannya. Dia melengosku. Tersenyum lalu menggelengkan kepala.

“ Kenapa halaman rumah kita sepi sekali? Yang lainnya kemana?” lanjutku.

“ Yang lain sedang berburu, ke hilir. Paling nanti sore mereka pulang. Lagian, kenapa kamu terlalu mengharapkan bantuan orang lain, sih? Kenapa tidak bekerja sendiri saja?”

Cemoohnya tanpa sadar dia juga sama sepertiku. Masih muda dan belum mampu bekerja. Aku bukan mengharap makanan yang mereka bawa. Aku hanya ingin menatap kedua wajah bocah yang selama ini merawat halaman rumahku. Aku sangat berjasa pada kedua saudara tampan itu. Dan aku senang jika bermain bersama mereka.

Nyaris langit terlihat gelap, namun aku masih belum melihat Rafa dan Alfi datang berkunjung ke tempat ini. Apakah mereka melupakanku?

Aku menyusuri tempat gelap ini seorang diri. Mencari sesuatu yang bisa menenangkan diri. Di balik kayu yang melapuk dalam genangan air di tepian napal itu aku berteduh. Sejuk dan segar membuat pernafasanku tenang. Gelembung insang ku sembulkan. Segar. Rumput liar meremajakan kulitku yang masih rentan.

Pluk. Mataku terbelalak. Aku melihat seutas tali masuk kedalam dengan mata pancing yang tajam mengerikan. Ini bukan Rafa dan Alfi. Ini pasti orang yang nakal. Pemancing liar? Bisa jadi. Aku menjauhi mata pancing yang mengancam jiwaku. Itu pesan ayah dan ibu. Jangan mendekati maut dan menghidarlah sejauh mungkin. Bisa saja aku bukan sekedar di pancing lalu di lepas karena aku masih terlalu kecil. Tetapi aku di bisa di jadikan umpan. Hiiiiiii. Aku belum mau mati. Aku masih ingin berenang hingga ketepian sepuasku dan melihat wajah dua saudara yang baik itu.

***

Seperti biasa. Senja ini aku masih menunggu. Kabar baiknya aku merasakan ada tanda-tanda kehadiran Rafa dan Alfi. Ya. Mereka datang. Byuuur. Aku ketawa girang. Ceria.

Aku melihat Rafa mencemplungkan kakinya perlahan ke atas napal yang panjang ini. Aku mendekatinya. Lalu ku mainkan sisik dan siripku di telapak kakiknya.

“ Kak, ikan itu mendekatiku.” teriak Rafa pada Alfi.

“ Jangan kau sakiti dia, biarkan ikan itu bermain sepuasnya. Kita hanya membersihkan rawa kecil ini dari sampah dan sisa-sisa racun juga ranjau dari mereka yang tidak bertanggung jawab.”

“ Kak, boleh aku memberinya roti?”

“ Boleh.”

Betapa bahagianya diriku. Rafa dan Alfi masih ingat padaku. Secuil roti tawar mereka lemparkan keatas permukaan air. Aku perlahan berenang mendekat ke permukaan. Rafa? Aku melihat wajah bocah itu tersenyum. Dia menatapku bias. Senyuman itu tanda ia tulus memberiku makanan. Terima kasih Rafa. Aku mencicipi rotimu yang enak. Terima kasih. Terima kasih sekali. Semoga Allah yang membalas kebaikan kalian nanti. Aku hanya ikan biasa yang tidak memiliki keistimewaan seperti kalian. Tapi Allah mampu mendengar doaku, dan juga doa keluargaku. Kami sempat teraniaya oleh mereka yang tidak berhati dengan membunuh beberapa saudara dan keluargaku lainnya. Dan kalian tahu doa makhluk yang teraniaya akan sangat didengar oleh Allah.

“ Ya Allah ya Tuhanku. Ampuni dosa dua bocah itu. Jadikan mereka pelindung rawa kami. Jadikan mereka pahlawan kami selamanya. Jangan biarkan mereka pergi meninggalkan kami tanpa kenangan. Aku ingin mereka selalu hadir setiap hari ke tempat ini. kabulkan Tuhanku. Kabulkan permohonanku. Amin.”

Selang beberapa saat, teman-temanku datang menghampiri. Mereka ingin mencicipi roti tawar pemberian Rafa dan Alfi.

“ Kak, lihat. Ikan-ikan itu semakin banyak.” Pekik Rafa.

“ Ya sudah, kamu tambahin rotinya. Biar semua kebagian.”

“ Kalau begitu, roti ini aku kasih semua ya kak?”

“ Ya. Biar ikan-ikan itu kenyang semua.”

Serta merta Rafa menaburkan semua potongan rotinya di atas permukaan rawa ini. Aku dan teman-teman berebut satu sama lain. Kami tertawa bahagia. Aku menikmati kebersamaan kami bersama dua anak manusia yang lembut hatinya itu.

“ Kak, aku mau memelihara ikan berwarna merah keemasan itu. Boleh ‘kan?” aku tersipu kala Rafa menunjukku. Aku mau Rafa. Aku mau kamu pelihara. Karena aku tidak punya keluarga selain pamanku. Tapi pamanku sekarang jauh.

“ Jangan Rafa! Itu tandanya kamu akan memisahkan dia dan keluarganya. Kasihan dia. kan masih kecil. Kalau dia menangis, kamu mau bertanggung jawab?”

“ Tapi, kak…”

“ Sudahlah, kita kemari bukan untuk menangkap ikan. Kita hanya membersihkan rawa dan memberi potongan roti untuk ikan-ikan itu. Bukan untuk menangkapnya.”

“ Ya sudah. Rafa nggak jadi deh ambil ikan itu.” desisnya cemberut.

***

Di bawah riak cahaya rembulan. Sebaris kata demi ucapan terus tedengar. Meski rawa kami jauh dari rumah Rafa dan Alfi. Kami bisa mendengar apa yang mereka bicarakan, apa yang ingin mereka lakukan. Itulah kelebihan kami. Bisa merasakan getaran orang yang berhati baik. Kami peka terhadap Rafa dan Alfi. Bahkan kami bisa mendengar sesuatu yang gaib, seperti mendengar apa yang jin dan manusia tidak bisa mendengar. Seperti suara orang yang di siksa di dalam kubur. Suara jeritan menangis anak cacing di tepi rawa. Dan lain sebagainya. Itulah kuasa Allah. Tidak akan mungkin manusia dan jin memungkirinya.

Seminggu berlalu, suasana rawa ini kembali normal. Meski sisa-sisa duka dan kenangan pahit itu masih aku rasakan, tapi aku tidak ingin terus larut dalam kedukaan. Kedua orang tuaku di tangkap oleh pemancing liar. Mereka menjaring semua ikan besar di rawa ini. Ayah, ibu, kakakku. Hanya aku dan paman yang selamat. Meski usiaku masih muda. Tapi aku sudah mampu merasakan kepedihan. Aku butuh perhatian. Kini paman jarang pulang, dia bekerja keras untuk menghidupiku. Seorang diri.

***

Pagi yang cerah membuatku nyaman dalam hangatnya rumput jerami buatan paman yang sangat nyaman aku tempati. Dulu ayah Rafa dan Alfi memasukkan tumpukan jerami untuk keluarga ikan di rawa bertelur. Mereka keluarga yang baik dan perhatian. Mereka sayang dan hewan dan lingkungan. Itulah sebabnya aku berharap mereka mau mengadopsiku untuk menjadi ikan peliharaan. Itu pun jika mereka berkenan. Oh Tuhan. Kabulkan permohonanku.

“ Kak, ikan merah itu mana?” tanya Rafa pada Alfi siang ini. Aku yang ketakutan bersembunyi di balik belukar basah.

“ Mungkin dia masih di sarangnya. Kamu sabar aja. Nanti kalau kamu taburi roti, pasti dia akan datang.”

“ Tapi kak, ini aneh. Ikan-ikan ini seperti hilang begitu saja. Kemana ya mereka? Apa pergi ke hilir rawa sana?”

“ Bisa jadi.”

Oh Tuhan. Rafa dan Alfi tidak tahu kalau baru saja ada orang yang menaburkan racun di air ini. Orang itu juga memasang ranjau. Aku tidak bisa keluar karena permukaan air itu telah terkontaminasi. Jika aku nekat. Maka aku akan tewas. Dan di balik belukar ini aku masih bisa merasakan segarnya oksigen yang fresh. Rumput ini kata ayah mampu melindungi insang meski sesaat dari bahaya racun itu. Jika air perlahan di netralisir seiring mengendapnya racun. Aku baru bisa keluar. Tapi, aku sekarang berharap kalau mereka mau menunggu sebentar. Aku ingin ikut Rafa dan Alfi. Tuhan, tolonglah aku.

“ Kak, sepi sekali yah. Kemana ikan-ikan itu?”tanya Rafa sambil meraba tangannya kedalam belukar air dan lumpur.“ Sudahlah, rawa ini sudah bebas dari sampah, ayo kita pulang.” Sahut Alfi.“ Rafa masih mau disini. Menunggu ikan itu keluar.”ketus Rafa sambil menyusuri napal.“ Eh, ayo pulang. Nanti ibu mencari kita.” “ Kakak duluan saja. Aku masih menunggu ikan merah itu sampai muncul.”.

Rafa dan Alfi bertengkar. Mereka sepertinya saling adu mulut. Aku tidak bisa melihat karena pandanganku semakin kabur. Tetapi aku mampu merasakan mereka saling bersi tegang. Rafa tidak ingin pulang hingga dia benar-benar melihatku. Sedang, Alfi yang patuh dan taat pada ibunya ingin agar mereka segera pulang. Racun itu masih ada di permukaan. Aku yakin aku belum sanggup melawan kandungan zat berbahaya itu. Aku juga belum bisa menahan nafas panjang. Aku masih kecil. Aku belum mau mati. Tapi, jika aku berlama-lama di belukar ini, aku juga bisa mati karena insangku membiru. Terus aku mau bagaimana. Ikan lainnya sudah banyak yang di tangkap. Yang lainnya lari ke hilir dan mencari celah ke sungai, aku belum pandai melawan arus. Aku bingung. Sekarang aku harus apa?

***

“ Rafa, ayo pulang!” pekik Alfi sambil menarik Rafa yang sedari tadi mencoba mencariku.

“ Nggak mau kak, rawa ini sepertinya baru di tuba. Lihat, airnya keruh. Banyak udang kecil yang mati.” Kilah Rafa sambil menyusuri napal dan membongkar kayu kering di atas permukaan.

“ Kalau rawa ini di racun. Kita pasti melihat ada ikan yang mati. Tapi ini tidak ada sama sekali. Jadi, kamu nggak usah cemas. Ayo pulang. Ayah dan ibu mau pergi.”

“ Ya sudah. Kakak pulang saja duluan. Aku masih mau menunggu ikan itu keluar ke permukaan kak. Setelah aku memberinya sepotong roti. Aku baru mau pulang.”

“ Nggak bisa. Kamu tetap harus pulang.” Ketus Alfi sambil menarik Rafa. “ Nggak mau.” Rafa melepas tarikan kakaknya itu. Mereka bertengkar di atas napal. Beradu kekuatan.

Byuuuuurrrr.

Rafa tenggelam dan gelagepan diatas permukaan. Dia tidak bisa berenang. Aku merasakan guncangan air dahsyat menghempas belukar ini. Aku sempoyongan. Batuk. Kepalaku pusing. Rafa dan Alfi malah bertengkar. Mereka masih ribut. Perlahan aku sesak dan tidak bisa bernafas. Air keruh sepertinya berkomplotan dengan racun dan sukses membuatku kelimpungan. Aku benar-benar tidak bisa bernafas. Sementara itu guncangan dan hempasan air keruh terus menyambar tubuh kecilku. Gelap. Aku merasa perlahan air keruh itu terasa memedihkan mata, dan gelap. Setelah itu aku tidak tahu apalagi yang terjadi.

***

Perlahan cahaya matahari menyusup masuk kedalam kelopak mataku. Aku merasakan derasnya air menerjun di sekitar belukar. Perlahan-lahan aku mendengar keramaian di sekelilingku. Ada yang tertawa. Ada yang berteriak girang. Ada yang kejar-kejaran. Ada yang sesekali menepukku. Kepalaku yang pusing perlahan pulih dan kembali normal. Ku buka kulit mataku. Ahhhhhh. Sontak aku terbelalak. Tidak bisa ku percaya. Oh Tuhan. Ini keajaiban. Sunguh ini suatu keajaiban. Kulihat dengan jelas ikan-ikan dari jenis lain berenang menghampiriku. Mereka tersenyum melihatku. Jumlahnya tidak banyak. Tapi terkesan ramai. Karena mereka selalu tampak riang. Aku duduk sendiri di tepi dinding batu hitam ini. Air jernih dan sejuk membuatku bersih dan segar dalam bernafas. Warna sisik mereka indah dan menawan. Sedangkan aku, kurang menawan. Tapi aku ada dimana? Ini seperti kolam ikan. Aku lihat hal menakjubkan di bawah sana. Ada terumbu karang dengan warna warni yang indah. Ayah dulu pernah bercerita. Kakek kami sempat tinggal di laut. Dia hidup di lingkungan yang jernih dan menyenangkan. Di kelilingi terumbu karang yang indah. Apa aku di laut? Tapi aku kan ikan tawar. Lalu aku dimana ini?

“ Kak lihat, ikan itu sudah sadar.” Sontak aku terkejut mendengar suara Rafa ada di sekitarku. Haaaah. Aku semakin terkejut, aku dapat melihat Rafa berjalan mendekatiku. Dari balik dinding kaca ini Rafa meletakkan jari telunjuknya. Aku yang merasa bahagia mengahampiri dan mencium telunjuk jari itu meski terhalang tabir. Rafa tertawa.

“ Ikan merah. Mulai sekarang kamu aman. Kamu tinggal di dalam akuariumku yang besar. Kamu punya banyak teman. Tidak kesepian lagi.” Lirih Rafa padaku. Aku menitikkan air mata karena terharu bahagia.

“ Rafa, kamu kasih dong ikan merah itu dengan potongan roti.” Sahut Alfi yang datang dari kamarnya.

“ Ya, kak. Mulai sekarang, aku akan merawat anak ikan ini. Dia lucu yah?”

“ Hmmm.” Rafa tersenyum seraya memeluk Alfi bahagia. Sejak saat itu aku menjadi bagian dari binatang kesayangan mereka. Aku lebih terawat dan lebih merasa di perhatikan semenjak tinggal di akuarium ini. Aku bahagia sekali. Punya teman baru. Punya keluarga baru. Terima kasih Tuhan. Engkau telah mengabulkan doaku selama ini.

“ Kak, ikan merah ini apa namanya?” Rafa melirik Alfi.” Itu anak ikan Mas.”

TAMAT

ARWAH SISWA SEKOLAHAN



hy all,,aku mau share pengalaman mnyeramkan yg tak
pernah aku lupakan,kejadia n ini terjadi sekitar 2 bulan yg lalu,mohon maaf sebelumnya nama sekolahan
dan nama siswa pelakunya aku smarkan,supaya lebih
aman..

kejadian ini terjadi di *** tempat aku sekolah,(SMP).p
eristiwa ini dialami oleh salah seorang dari temanku
sebut saja Lala,ia masuk kelas 7.4,yg dulunya kelas

9.3.konon,kelas 9.3 seram(dulunya)k arna diceritakan bahwa ada seorang murid perempuan
sebut saja Dela kelas 9.3 yg sedang naik motor
mengelilingi lapangan sekolah lalu menabrak tembok
dan meninggal seketika,arwahn ya selalu saja menghantui temanku ini,karna mungkin saja tempat
duduk yg Lala tempati itu bekas tempat duduk
dia.awalnya,ket ika itu Lala terlambat masuk sekolah dan terburu buru masuk kelas,tapi dia kaget karna dia
heran kenapa ada siswa perempuan yg belum masuk
kelas,padahal kan sudah bel,Lala mendekati siswa
tersebut lalu ia bertanya.Lala (L) Dela (D)

L:kamu kenapa kok nangis?
D:aku pengen makan permen,mulutku pahit sekali rasanya
L;dih,Lala gk punya permen,kalo mau pake uang Lala aja
D:gak mau..

Lala tersentak kaget karna baju yg dipakai Dela sudah
robek2.tapi karena rasa takut,Lala langsung lari masuk
ke kelas,dikelas Lala hanya melamun,dan tiba2 saja ia memegangi rambutnya sambil berteriak
"sakitt...sakit ...aduhh ampuun..!!" ia merasa bahwa siswa tadi telah menjenggut rambutnya,sonta k,guru dan siswa lainnya kaget dan coba menenangkan
Lala,lalu atas perintah dari gurunya,siswa yg lain
segera memanggil guru2 yg lainnya,serta merta siswa
di kelasku kaget karna guru yg ada di kelasku keluar
kelas dngan tergesa-gesa,,k etika guru2 berada di tempat Lala(yg kebetulan berada di pojok) Lala
langsung pingsan dan segera di bawa ke UKS.bel
istirahat berbunyi,Lala sadar dari pingsannya dan lalu ia
ditanya oleh para guru.

G:kamu kenapa tadi kok tiba2 menjerit ?
L:saya merasa ada yg ngikutin saya G:siapa ?
L:siswa yg tadi saya temui di lapangan sekolah
G:dia ada dimana?
L:di dekat pohon ketapang pak.
G:ya sudah,kamu istirahat saja dulu disini
L;saya takut pak,saya takut dia jenggutin rambut saya lagi,saya rasa dia benci kpada saya entah kenapa.
G:hmm,,bgini saja kamu sebaiknya pulang saja,saya
takut kamu trauma.

singkat cerita..
keesokan harinya,Lala seperti biasa masuk
sekolah,setelah sampai di kelas,Lala kembali bertemu dengan siswa perempuan yg sedang nangis di
dekat lemari,Lala mendekati siswa tersebut yg dia kira
itu adalah temannya.Aisah

L:aisah,kmu kenapa ?
D:aku pengen teh manis,bibirku terasa pahit sekali
L;tapi, sebelum Lala meneruskan kata2 nya,Dela membalikan
tubuhnya dann seketika Lala menjerit karna wajah Dela
yg begitu menyeramkan,anc ur,dan seluruh badannya bekoreng dan luka2.

sejak saat itu,Lala tidak pernah di ganggu lagi oleh Dela
yaa karana kelas 7.4 sekarang sering sekali di ngajikan, maaf ya kalau ceritanya berbelit belit,kata2nya tidak
rapih or apalah,maklum baru pertama share cerita,,
sekian,,

...Kereta Hantu....




Kereta Hantu merupakan legenda klasik warga UI
Depok. Seorang teman gua yang kost di UI semasa
kuliah, mengaku pernah mendengar bunyi kereta di
malam hari sekitar jam 10-11 malam. Pada jam2
tersebut kereta sudah tidak lagi beroperasi, jadi itu
adalah bunyi kereta hantu.


Kisah ini gua dapat sekitar tahun 2000 awal. Pada suatu hari, ada mahasiswa UI bernama X yang
malam itu berniat pulang ke rumahnya di kawasan
Tebet menumpang kereta. Karena masih merupakan
mahasiswa baru, dan belum lama naik kereta. jadi X
belum begitu paham seputar jam-jam operasional
kereta.

Malam itu, sekitar jam 9 X tiba di Stasiun Kereta UI.
Suasana stasiun yang sepi samasekali tak membuat X
curiga. Saat kereta datang (X punya karcis abodemen
bulanan), X langsung masuk ke gerbong dan
mengambil tempat duduk dekat jendela.

Suasana gerbong sepi dan tidak ada tukang jualan di
dalamnya, X yang baru 1-2 kali naik kereta merasa
tidak aneh dengan situasi ini. Penumpang kereta lain
yang menunduk dan hanya diam serta berpakaian
lusuh bahkan terkesan ketinggalan jaman juga tidak
membuat X merasa janggal.

Saat kereta tiba di Stasiun Tebet, X bergegas turun. Ia
satu2nya penumpang yang turun. Tidak ada
penumpang lain yang turun di Stasiun tersebut. Saat
berjalan, tiba-tiba langkah X dikejutkan dengan sapaan
penjaga stasiun Tebet. “Dik, apa nggak capek kamu
jalan kaki sepanjang rel ini?” Lalu X menjawab “Saya tidak jalan kaki, pak! Saya naik kereta”

Bapak itu menjelaskan “Kereta tidak ada yang
beroperasi di jam ini, terakhir jam 8 malam. Adik naik
kereta jam berapa?” X menjawab “Jam 21.30 pak”
Bapak itu pun menambahkan sesuatu yang membuat
bulu kuduk X merinding ngeri “Masalahnya, dari tadi
saya memperhatikan adik. Adik tidak naik kereta, adik berjalan kaki di atas rel”

Jadi, X tidak menyadari sama sekali kalau kereta yang
ditumpanginya dari Stasiun UI menuju Stasiun Tebet
adalah kereta hantu

...HANTU KELAPA...



Memasuki umur 12 tahun aku termasuk anak yg aktif dan selalu punya ide2 untuk membantu mencari nafkah untuk orang tua dikarenakan ayah saya masih ngungsi di dusun Padang sari (Sumatera utara) karena urusan utang.

Pagi buta sebelum berangkat sekolah aku berjualan sarapan keliling dengan keranjang ditangan menjajakan kue2 sederhana dan juga ketan putih yg di olesin srikaya dan kelapa

parut.
Siang hari sepulang sekolah aku berkeliling keseluruh bengkel motor dan mobil serta pasar2 untuk mencari besi tua untuk dijual seharga Rp 25,- per kilo.

Posisi rumah kami itu didalam gang tapi banyak cabang dari gang tersebut dan masih memiliki lahan atau tanah yg luas2 yg banyak ditumbuhi oleh pohon2 dan semak belukar.
Salah satu cabang dari gang tersebut adalah menuju pasar yg dinamakan pasar Parluasan dimana saya sering melewatinya karena jalanannya masih dari tanah yg dipadatkan dan jalannya lebar cukup untuk 3 mobil lewat bersamaan.
Disamping kiri jalan tersebut hanya ada beberapa rumah ,itupun berjarak beberapa ratus meter antara satu dengan yg lainnya. Di tenggarai oleh pohon2 kelapa dan sisanya adalah rerumputan.
Disamping kanan jalan memang berderet rumah2 sederhana dan sebuah mesjid yg cukup besar menurut ukuran orang kampung.
Aku sendiri sering bermain di bersama teman2 seusiaku diseberang mesjid tersebut dimana disana tumbuh 2 batang pohon kelapa dan beberapa batang pohon papaya serta singkong dan sedikit semak2. kami sering bermain membuat mobil2an , sepak bola dan sering berayun2 ditali yg diikat dipohon kelapa.
Anehnya pohon kelapa yg tumbuh disana bentuknya seperti pohon kelapa yg tumbuh dipantai2 dimana bentuknya tidak tegak lurus. Tapi melengkung karena sewaktu tumbuh terus2 an tertiup angin.
Singkat cerita tibalah saat perayaan hari raya korban atau hari raya haji dimana ada keramain di mesjid yg saya ceritakan tadi.
Hewan kurban yg akan disembeli adalah 2 ekor sapi dan 2 ekor kambing dimana dipastikan tempat melaksanakan kurban tersebut adalah di seberang mesjid tersebut……Tempat biasanya kami bermain…..
Dan biasanya tempat tersebut akan ramai sekali oleh orang2 yg ngantri untuk mendapatkan daging kurban tersebut.
Aku sendiri bukan beragama Islam tapi beragama Kristen.
Tapi aku sangat akrab dengan semua muslim di sana dan telah dianggap tidak ada perbedaan dengan mereka dan dihargai oleh seluruh muslim disana karena aku sering membantu acara2 dimesjid tersebut dan karena kami keluarga kurang mampu.

Tibalah acara pemotongan kurban dimana darahnya kurban tersebut menetes ketanah dan berserakan diantara rumput dan tempurung kelapa bekas yg banyak terdapat disana.
Daging kurban tersebut dipotong kecil2 dan dimasukkan kedalam kantong plastic untuk selanjutnya dibagikan kepada orang2 yg ngantri….termasuk….aku.
Dengan riang aku menenteng daging campuran sapid dan kambing tersebut pulang.

Pagi buta jam 3 subuh aku dibangunkan oleh ibuku dan diminta ke pasar untuk membantu abangku yg berjualan ikan segar dipasar tersebut yg memang beraktivitas dari jam 3 sampai jam 7 pagi saja.
Akupun berangkat menuju pasar dimana arahnya adalah melewati mesjid tersebut .
Sekitar 10 langkah sebelum melewati tempat pemotongan hewan kurban kemaren aku dikejutkan oleh suara yg bergeruduk seperti suara benda yg tidak bulat menggelinding dikayu. Berhenti sesaat mendengarkan kembali suara itu terdengar lalu sepi lg.
Rejeki nomplok pikirku,pasti ada kelapa yg jatuh sampai banyak begitu. Lumayan jika aku pungut dan bawa kepasar nih…berbekal korek api aku mencari rumput kering dan disatukan terus di sundut dengan korek api. Sebagai obor untuk mulai memasuki lahan tersebut dan mulai mencari cari.
Yg tidak kusadari adalah itu adalah jalan menuju pasar dan diberang adalah mesjid dimana biasanya pada jam2 segitu mulai ramai yg ingin sholat atau menuju pasar.
Tapi hari itu tidak ada satu orangpun yg terlihat.

Sibuk mencari kelapa dengan obor ditangan kesana kemari kok belum ketemu yah…
Tiba2 suara geruduk tersebut terdengar lagi disalah satu pohon kelapa itu dan langsung aku menuju kesana mencarinya…
Suara geruduk makin ramai sekitar 2 atau 3 kali lagi…
Sampai dilokasi memang betu ada 3 buah kelapa ditanah…tetapiii masih menggelinding.
Satu lagi kelapa yg akan jatuh karena aku mendengar bunyi tes, seperti suara buah yg terlepas dari tangkainya…
Otomatis langsung obor kuarahkan keatas karena tidak mau aku tertimpa oleh buah kelapa.
Bulu kuduk mulai merinding begitu kuperhatikan cara buah kelapa tersebut jatuh.
Karena jatuhnya bukan tegak lurus seperti biasanya tapi menggelinding mengikutin batang pohon kelapa tersebut yg melengkung. Benar menggelinding dgn lamban sampai ditanah yg terus kuikuti dengan nyala obor. Buah kelapa tersebut menggelinding ditanah terus sampai berkumpul dengan 3 buah kelapa yg pertama sudah ditanah dan membentuk kerumunan
4 buah kelapa itu semuanya bergerak2 dan mengerumuni sesuatu ditanah. Aku mundur dua langkah dimana keringat dingin keluar dan kuduk sudah mulai merinding.
Obor kuarahkan lebih dekat ke kerumunan kelapa tersebut bermaksud mengusir mereka.
Malah yg terlihat kelapa2 tersebut sedang berrebut……….Darah bekas kurban tadi siang yg tertampung di salah satu tempurung kelapa.
Secara serentak buah kelapa tersebut berpaling…yah..berpaling kearahku karena merasa terganggu sebab aku mendekatkan obor kearah mereka…
Terlihatlah bahwa buah kelapa itu memiliki mata hidung serta mulut yg masih belepotan darah dan menyeringai sambil berlompatan….
Aku lsg membeku dan tidak bias bergerak, hanya mata ku yg melotot serta mulut menganga dengan posisi agak membungkuk serta kesadaran yg terasa hilang beberapa saat…
Beruntung…yah..beruntung obor rumput yg kupegang ditangan sudah pendek dan mulai membakar telapak tanganku. Itulah yang menyadarkan aku sehingga reflek aku membuang obor tersebut dan seketika badan terasa bias bergerak lagi.
Langsung berbalik dan aku berlari kencang dikegelapan dan menabrak beberapa batang pohon singkong. Sewaktu berlari masih kudengar suara menggeruduk mengejar dibelakang. Sampai tiba2 aku menabrak seorang berbaju putih yang ternyata ustadz di mesjid seberang lahan ini. Dan akupun lsg lemas terkulai di hadapannya. Serta merta aku di bopong kedalam mesjid yg terang dan masih belum ramai itu.
Setelah disiram dengan air yg dingin dikepalaku baru aku bisa sadar dan menceritakan kejadian tersebut kepada ustadz itu.
Diluar dugaan sang ustadz terlihat lsg semangat dan berlari menuju areal lahan tersebut mencari2 dengan senter ditangan. Tetapi sudah tidak ada apapun yg bergerak disana.
Sang ustadz kembali ke mesjid dengan kecewa dan menerangkan kepada aku begini :
Sudah lama dia ingin mencari jenis hantu tersebut karena menurut kakeknya bahwah bila berhasil menangkap hantu kelapa tersebut dan membelahnya, maka didalam kelapa tersebut akan menemukan barang2 yg terbuat dari EMAS…

Sampai berhari2 kedepannya dilahan tersebut pak ustadz dan beberapa orang menungguin…tapi hantu kelapa tersebut tidak muncul lagi walau telah dipancing menggunakan darah sapi didalam ember…

...Cintaku Berujung Kematian ...




Ku langkahkan kaki ku, menuju ruang makan. Dengan rasa kantuk yang kurasa.
“Ayu, pergegas langkah mu. Kamu sudah mau telat” kata Ibu.
“iya bu” jawab ku sambil menahan kantuk.
Aku percepat sarapanku karna tinggal 45 menit lagi gerbang sekolah akan di tutup.
“mah, Ayu berangkat ya.” Kataku sambil memakai sepatu.
“iya” jawab ibu singkat lalu mas

uk ke kamarnya. Sekitar 30 menit ku tempuh perjalanan dari rumah menuju sekolah. Ini memang hari pertamaku sekolah di SMA ini. Sebenarnya aku pindahan dari Bali, aku pindah ke Jakarta karna, perceraian kedua org tuaku.
“maaf, mau nanya ruang kepala sekolah itu dimana yah?” tanyaku pada sekelompok perempuan cantik yg sedang bergosip.
“di sana! Eh, lo anak baru yg di bilang pak Bambang itu ya? Pindahan dari Bali. Yang katanya menjuarai olimpiade IPA tingkat nasional itu?” kata Sintya, yg ternyata leader kelompok yg mereka namai “The Girls” itu.
“terimakasih, hehehehe” jawabku sambil senyum.
“aku duluan ya mau ngadep Pak KepSek” jawabku pamit.
“silahkan” jawab Sintya.
“Murid-murid ini murid baru yg bapak ceritakan kemarin, silahkan perkenalkan nama mu nak” kata Pak Bambang dengan halus.
“Hai semua, nama saya Ni Kade Stevina Ayu, saya biasa dipanggil Vina sama teman-teman saya.
Saya pindahan dari 177JHS RSBI, di Bali. Terima kasih” kataku memperkenalkan diri.
“sama-sama Vina. nah, Vina. Semoga kamu senang yah sekolah di sini. Kamu duduk sama andre ya.” Kata Pak Bambang. “ah, gamau Pak! Saya gak mau duduk sama anak kampung kayak dia!” kata Andre. Seketika perasaan ku langsung down. Dan tentunya teman-teman sekelas menertawakan ku. “kalau kamu menolak,nilai kimia kamu bapak kurangi. Dan yg berani menertawakan juga!” ancam Pak bambang. Dan akupun tertawa di daalam hati. Hihihi, makanya jangan berani menertawakan anak spt aku.
Hari-hari ku lewati, hanya sekolah, tidur, belajar, makan. Itu saja kegiatan sehari-hari ku. Sehari-harinya aku hanya sendiri. Di sekolah mau pun di rumah. Andre teman sebangku ku saja menjauhi ku. Sampai pada suatu hari aku mendapat bbm dari teman ku di Bali, kalau ayahku sekarang pake bb, tak ku sia-siakan informasinya, langsung ku invite pin nya. Dan itu membuat ku kaget, ketika permintaan ku accept. Yg kulihat PM ayahku adalah “H-7 married. ♥ Vannesia Aprililia ♥” ayah ku memang jahat, pikirku.
Dia selalu memukuli aku dan ibu ku. Lalu dengan gampangnya dia membawakan surat cerai serta wanita penggoda itu kerumah ku, lalu ayah mengusir kami. Dengan mencoba meredam emosi ku, aku bm ayah. “yah, mau nikah? Ko undangannya ga nyampe ka aku dan ibu? Hehehe” kataku memulai pembicaraan yg basi ini. Namun apa yg ku dapat ayah membalas pesan ku “anda siapa? Anda dan ibu? Saya tidak kenal kalian siapa! Jangan ganggu hubungan saya dan Lia sekarang. Jika sampai pernikahan kami gagal anda akan saya bunuh” jawab Ayah membuatku sakit.
“jadi anda tidak mengenal saya? Anak yg anda buang sekitan 3 bulan yg lalu? Yg anda campakan bersama mantan Istri anda?” jawabku menahan emosi. “saya tidak pernah punya anak, saya tidak pernah punya istri. Saya baru akan menikah dengan org yg paling saya sayang, yaitu Lia” jawab ayah, yang langsung membuat ku menangis.
“ayah, aku anak ayah. Ayah jahat banget sama Ayu. Yah ini Ayu, anak Ayah” jawab ku sambil menangis. “saya tidak punya anak, apalagi yg namanya Ayu. Sudah! Jangan ganggu saya” jawab ayah, yg langsung mendelcont ku. Tidak pernah kurasa sesedih ini, bahkan saat Dimas meninggalkan ku.

Saat aku menangis Ibu datang menghampiriku, “Anak ibu kenapa nangis? Bilang Ibu siapa yg sakitin Ayu?” kata Ibu mencoba menghiburku. Ku ceritakan semua pada ibu, dan mulai saat itu kejadian-kejadian aneh pun mulai terjadi.
“hey Vina” sapa Andre yg membuat ku kaget. “ha? Iya. Tumben banget lo nyapa gue, hehe.” “emang gaboleh ya? Gpp hehehe, lo cantik juga yah” “ah bisa aja lo”

Saat aku mulai belajar,seketika bulu kuduk ku merinding. “Dre.” “iya” “lo,merinding ga?” “engga,kenapa?” “ko gue merinding ya” “yaiyalah,si Jono kan setan” “sial,serius gue” “udah lah bawa enjoy aja” “oke, thx ya”
Belakangan ini aku selalu merasa di ikuti. Aku bingung. Aku ketakutan. Tak ada yg bisa aku jadikan tempat curhat.

Istirahat tiba.
“Vina” sapa Andre mengagetkan ku. “ada apa?” “engga,mau nanya aja” “nanya apa?” “lo kenal Lia?” “hmmmm, gatau gue lupa” “ohh, gue kasih tau ya. Dia mau balas dendam ama lo,jadi take a care baby” “demi apa?!?!?! Eh tunggu lo manggil gu apa td?” “baby?” “aaaa.so sweeeetts” “hehehe, Vin. Sebenernya gue udah lama mau ngomong ini” “ngomong apa?” seketikapercakapan kami berubah menjadi serius. “mmmm...nanti aja ya, ga surprice nanti” “dih,wkwkwkwk.suka-suka lo dah Dre” “hehe..gue balik ke kelas duluan ya” “iya”

Malamnya, kejadian siang tadi selalu ada di pikiran ku, maksutnya Andre apa sih? Jangan-jangan...ah dia bikin gue nge fly aja. Tak lama aku memikirkan Andre seketika vas bunga di meja rias ku jatuh, dan langsung saja aku merinding, tak lama kemudian lampu kamar ku pun mati. “IBU!!!!!!” teriakku, tapi tak ada jawaban dari ibu.
“Ayu, kamu mau kemana?” lampu kamarku menyala, dan tiba-tiba muncul seorg wanita cantik dari sudut kamarku.
“ka...kamu siapaa?” kata ku ketakutan. “aku,Lia wanita yg akan dinikahi ayahmu, sekaligus Ibunya Dimas.” Kata wanita itu, seketika aku ingat percakapan ku dengan ayah di bbm waktu itu. “mau kamu apa?” jawabku ketakutan. “mau ku? Kamu bertanggung jawab atas anak ku yg kamu campakan” jawabnya mebuatku takut “karna kamu anak ku menhantuiku, dia ingin kamu mati. Dan aku ingin membalaskan dendam anakku kepadamu” sambungnya. Lalu dia mendorongku ke sudut ruangan,yg membuat kepalaku berdarah.
“Ayu!! Ayu!! Kamu kenapa nak? Ayu buka pintunya!” kata ibu dari luar kamarku. “urusan kita belum selesai Ayu! Aku akan kembali dengan anakku, supaya dia bisa tenang disana hahahahahahaha” katanya sambil tertawa puas. “Ayu, kamu gapapa?” “Ayu gapapa bu” “kepalamu berdarah yu” “iya bu tadi Ayu kaget jadi nabrak tembok” “oh yasudah, kamu tidur ya, Yu” “Ibu Ayu takut tidur sendiri, Ayu tidur sama Ibu ya?” “iya Yu, Ayo”

Keesokan harinya aku berangkat sekolah dengan di sertai rasa takut. Setiba aku di sekolah, Andre langsung menghampiri ku. “Vina, kamu gapapa kan? Kamu diapain sama Lia? Apa yg dia lakukan padamu?” “dari mana kamu mengetahiunya? Aku tidak apa-apa, itu hanya insiden kecil” “insiden kecil katamu? Lia hampir membunuh mu! Untung ibumu cepat datang” “darimana kamu mengetahui semua ini?” tanyaku mulai takut. “jangan takut Vina, aku punya semacam kekuatan untuk mengetahui hal yg aku tidak tau” “semacam kekuatan gaib, Dre?” “iya, kamu benar. Skrg ceritakan semuanya padaku”. Lalu aku menceritakan semuanya ke Andre, dan dia berjanji akan melindungiku. Aku senang karna aku bertemu lelaki seperti Andre. Trimakasih Tuhan, kau memberikan dia kepada ku.

Keesokannya Andre main ke rumah ku, dia sangat baik. Terlebih pada ibuku, dan aku yakin Ibu pasti akan menyetujui hubungan kami. Andre selalu main kerumah ku saat weekend tiba. Aku dan ibu ku sangat senang dengan kehadirannya. Aku berteman dengannya sampai kami lulus SMA. Karna pada saat kami lulus, Andre melamar ku. “Besok adalah hari yg paling kamu tidak bisa lupakan Vina” kata Andre sambil tersenyum. “terimakasih, dre. Kamu buat hari-hari aku&ibu berwarna, kamu buat kita lupa sama kejahatan ayah Dre” jawabku.
Benar saja, 13 Maret 2009. Andre datang kerumahku beserta ibunya malam hari untuk melamarku, aku yg daritadi menunggu di kamar dengan hati yg berdebar akhirnya dipanggil ibu. “Ayu, ini nak Andre udah datang” “iya bu” jawab ku. Lalu aku keluar dengan hati bahagia.
Betapa terkejutnya aku saat melihat Andre datang dengan mawar Merah kesukaan ku ditangannya. “makasih dre, kamu emg paling ngerti aku” andre hanya membalas perkataan ku dengan senyuman. Tapi senyumannya itu membuatku bahagia, “mana Mama kamu dre” “sebentar lagi datang” “ooh,duduk dre kita nunggu sambil ngobrol” kataku. “ibu diajak ga?hehe” kata ibu “silahkan bu” kata andre dengan sopan.

Tak lama kemuadian mamanya andre datang, betapa terkejutnya aku saat melihat mamanya andre, yg ternyata adalah Lia. Org yg selama ini ingin membunuhku. “ada apa kamu kesini? Kurang puas kah percobaan mu membunuhku satu tahun yg lalu?” kata ku ketekutan. “kamu ngomong apa sih Vina, ini mama ku” kata Andre menenangkan. “kamu jangan ngawur Yu, dia ini Mamanya Andre” kata ibu membela wanita itu. “Ibu, dia itu wanita yg ingin membunuh ku bu! Dia wanita biadab yg merebut ayah dari kita bu!” kataku mulai kesal. “jaga omongan mu, Vina. Saya tidak setuju Anak saya berhubungan dengan anak yg tidak tau adat seperti mu!” kata mamanya Andre.
“sebenarnya kalian siapa?!?! Apa yg kalian mau dari saya dan ibu saya? Kenapa kalian menghantui kami?” kataku. “sadar,Vina. Ini aku Andre” kata andre. Setelah Andre menenangkan ku ti ba-tiba mamanya andre berkata “semua sudah terlambat Vina, waktu mu sudah habis. Aku datang bersama anak ku, yang menuntut balas atas perbuatanmu! Dan kini kamu harus merasakan apa yang anakku rasakan! Hahahahahahah” kata mamanya Andre.

Ibu & Andre terlihat takut, terlebih aku yg sangatg ketakutan. Dan tiba-tiba muncul sesosok pria yg datang dari balik pintu. Aku mengenalnya, tapi aku ragu. Ternyata dia Dimas, lelaki yang dulu sangat aku cintai. Kami dijuluki pasangan ter-langgeng karna 2 tahun kami jalani tanpa konflik sedikit pun. Tapi semua itu berakhir ketika wanita itu datang. Kinan, perempuan yang menghancurkan hubungan kami. Dia memfitnah Dimas, bahwa Dimas selingkuh dengannya. Aku tidak percaya dengan kata-katanya. Tapi bukti-buktinya kuat.

Dan itu alasan ku untuk mengahkiri hubungan kami. Aku tidak tau kalau itu semua hanya akal-akalan Kinan, Doni sahabat Dimas menceritakannya kepadaku saat aku mengadiri pemakaman Dimas. Aku tidak tau kalau karna aku Dimas mati, aku menyesal. Yang aku tau bahwa Dimas meninggal karna kelebihan obat tidur. “kamu menyakiti hatiku Ayu, tetapi aku masih mencintaimu sampai sekarang. Tiap malam kulalui di taman kita hanya untuk menunggumu, berharap kamu ya datang menemuiku. Tapi tidak Ayu. Hanya aku menunggu sendiri disana, dalam kesunyian malam.
“maafkan aku Dimas, aku melakukan semua ini demi Ibu ku, aku sangat menyayanginya. Aku tidak mau melihatnya menangis, makanya aku ikut ibu pindah ke Jakarta, kita sudah tidak bisa bersama, kita hidup di dunia yang berbeda. Tapi percayalah Dimas, rasa cintaku padamu ini akan selalu ku simpan sampai kita bertemu nanti” kataku sambil menangis. “kita akan selalu bersama Ayu, aku datang menjemputmu. Lewat adikku aku datang kesini, untuk menjemput kamu seorang. Agar kita bisa bersama Ayu, seperti dulu” kata Dimas yg membuatku terharu.
“tidak, jangan bang. Vina sekarang milikku. Abang tidak berhak membawanya pergi” Andre membelaku lalu mencoba melawan Dimas. “diam kamu Andre, kamu tidak berhak mengatur saya” kata Dimas sambil mengayunkan palu yang ada ditangan kirinya hingga mengenai kepala Andre. “Andre!!! Dimas kamu jahat!” “tidak,bukan aku yg jahat,tapi kamu. Sekarang kamu milik ku. Tak ada yg bisa menghalangiku” tak menunggu waktu setelah Dimas berkata spt itu, Dimas menusukkan pisau yang dia bawa di tangan kanannya tepat di jantungku, lalu aku tidak sadarkan diri. Yang terakhir aku dengar hanya suara Andre yg berkata “Jangan!!! Jangan bunuh Vina bang!!!”

......RUMAH TUA......




Gak kerasa, sekarang udah 2 tahun lebih dari kematianya Erin. Dilain sisi aku gak akan pernah bisa ngelupain semua hal tentang Erin, namun nyatanya, dikelas 3 SMK ini aku sudah punya pacar, dan udah kejalin cukup lama. Namanya Devi, dia ceria, senyumnya manis, dan tawanya selalu membuatku semangat. Aku gak akan pernah berpikir kalau Devi adalah penggantinya Erin, namun kehad

iran Devi di Diary Harianku, seolah mengisi kekosongan. Hingga suatu hari terjadi…

Di minggu pagi yang indah, aku dan Devi lari pagi bersama dipesisir jalan kota Sumedang. Hangatnya mentari menyinari atmosfer bumi, menambah keharmonisan langkah kaki kami berdua. Ditengah suasana itu, tiba-tiba Devi berhenti, dan melihat kesebuah rumah tua tanpa cat dinding dan tak bertuan. Tanpa jendela, dan satu-satunya kehidupan, hanyalah rumput liar yang sayup tertiup angin.

Aku ikut terdiam, melihat wajahnya yang polos tanpa emosi. Aneh, baru kali ini aku melihat dia begitu tertarik dengan rumah, yang sama sekali gak layak untuk dihuni siapapun, termasuk seekor nyamuk sekalipun. Kemudian tersentak aku kaget, dia memintaku untuk menemaninya masuk kerumah tersebut. Awalnya aku menolak, tapi karena aku gak tahan rintihannya, bujukan semu yang baru kali ini aku mendengar dari mulutnya. Jadi tanpa rasa sesal dan rasa lain, aku menemaninya masuk kerumah tersebut.

Langkah pertama kami dirumah itu, langsung disambut oleh beberapa ekor tikus dan kelelawar. Aku heran, kenapa dia sama sekali tidak merasa takut atau geli, dengan kedua hewan pengerat yang begitu aja melewatinya. Bahkan tanpa ragu lagi dia langsung masuk kerumah tersebut, dan melepaskan pegangan tangannya dari tanganku. Sekarang aku dan Devi, berjalan melihat suasana rumah sendiri-sendiri.

Aku coba lihat kesetiap dinding, dikanan pandanganku ada pajangan besar, dengan objek Bis Pariwisata yang rusak. Saat kulihat gambar bis tersebut, aku mulai merasakan hal negatif. Serentak aku palingkan wajahku, sekarang aku melihat sebuah cermin, gak tau kenapa? Aku tertarik kecermin tersebut, dan mendekatinya. Sekarang aku bisa melihat jelas wajahku sendiri di cermin itu. Aku coba senyum, tapi yang ditunjukan cermin itu sebaliknya, sekarang aku benar-benar merinding. Aku teringat Devi, aku langsung membawa dia keluar dari rumah itu. Dipintu keluar, aku melihat jam dinding rusak, yang menujuk ke angka 09.59. Aku lihat jam tanganku menunjuk ke angka 09.01. Aku tak pedulikan jam tersebut, aku langsung menarik Devi keluar dari rumah itu.

Kami berhasil keluar dan duduk jauh di seberang beberapa menit, sekarang aku mulai bisa merasakan ketenangan. Aura sejuk dan nyaman, mulai terasa, dan membuat pikiran bersih. Aku ceritakan ke Devi semua yang terjadi di rumah itu. Dan aku memintanya untuk menceritakan semua hal yang dia lihat dan dia rasakan. Heran sekali aku mendengar cerita yang begitu panjang, seolah dia tinggal lama, berhari-hari, bertahun-tahun, dan seakan selamanya. Aku tidak tahu, apa dia sedang menceritakan karya fiksinya atau benar-benar yang dia alami dirumah itu. Dan diakhir cerita dia bilang,”Sayank, kamu harus percaya kalau aku benar-benar sempat melihat ruangan gelap, dan ada seseorang yang bersayap indah yang memanggilku”. Aku gak percaya, dan anehnya lagi, dia kesal karena aku membawanya keluar saat itu.

Ujung-ujungnya aku malah bertengkar dengan Devi. Aku bilang,”Pasti itu cuman karangan cerpen kamu yank, dan halusinasi, cuman itu, gak mungkin ada yang lain”. Dan aku tegaskan kembali kalau dia hanya melamun dirumah itu, dan itu benar-benar gak mungkin terjadi, dan pasti cuman kebohongan. Kemudian dia diam dan berpaling, dengan wajah yang paling aku benci, ekspresi muka yang paling ngeselin sepanjang sejarah dunia percintaan yang ada.

Setengah jam lebih Devi diam, dan selama itu aku gak bicara apapun sama dia. Tapi kali ini aku benar-benar merasa gak enak, karena sikap keras kepalaku tadi. Aku pikir, walaupun kemungkinan besar dia bohong, tapi seharusnya aku ngerti apa yang dia rasain. Harusnya aku liat dulu keadaan dia sekarang, yang lagi aneh-anehnya. Dan aku coba minta maaf,”Mmm dev,,, Yank. Maaf ya tadi, aku terlalu kerasan ke kamu, aku bersikap seperti itu, ya karena… Untuk kamu juga”. Dia melihat kearahku dan jawab,”Gapapa,, aku udah lupain itu… Cuman aku pengen kamu nganterin aku lagi kerumah itu”. YA AMPUN!!!! Aku kaget dicampur gelisah, tapi aku bertekad aku gak bakalan mau, walaupun dia membujuk aku seperti apapun. Dan akhirnya kami berdua mulai adu mulut lagi.

Lama-lama perbincangan hebat kami malah semakin sengit, dan terakhir dia bilang,”Ya Udah! Kalau gak mau nganter, aku pergi sendiri aja”. Tapi aku masih teguh pada pendirianku,”Silahkan aku juga gak akan pernah nganter kamu kembali kerumah itu”. Dia malah kesal dengar jawaban dariku, dia langsung pergi, untuk nyeberang lagi ke rumah itu. Aku diam aja gak peduli apapun, tapi aku lihat jam dan angkanya menunjuk ke 09.59, dan itu mengingatkanku kembali akan semua kejadian dirumah itu. Aku langsung perhatikan Devi menyeberang jalan, tapi dikejauhan jalan aku lihat ada satu Bis Pariwisata dengan kecepatan penuh, dan mungkin supirnya tidak sadar kalau di depan masih lampu merah. Kemudian aku perhatikan lagi Devi telah setengah jalan keseberang, aku langsung lari, aku gak peduli akan pendirianku. Aku berusaha untuk selamatkan Devi, karena sepertinya dia dan penyeberang lainya gak sadar akan Bis tersebut. Tapi tiba-tiba Bis langsung menabrak kendaraan yang ada didepannya, dan aku lihat terjadi tabrakan beruntun. Aku cemas, jangan-jangan… Aku cari dimana Devi, apa dia udah sampai keseberang, apa dia selamat? Asap dan debu menghalangi pandanganku.. Aku melihat kepinggir,,, orang-orang berusaha membantu kecelakaan ini,,, tapi aku masih belum menemukan Devi, mungkin dia udah sampai dirumah itu pikirku… Tapi… Aku lihat disebelahku ada mobil yang ketabrak, disebelahnya lagi aku melihat tubuh perempuan tergeletak berlumuran darah… Aku mendekatinya perlahan, dan ternyata… “itu Devi”.. Innalillahi,,, Tubuhku lemas, aku terjatuh diantara semua keributan pasca kecelakaan ini… Aku lihat kekanan, kembali ada satu lagi Bis Pariwisata mendekat dan sangat cepat, aku gak mengerti kenapa aku malah diam saja disamping jasad Devi, disaat Bis itu hendak menabrakku,, tubuhku seolah tidak bisa digerakan dan seakan menerima takdir, yang beberapa detik lagi akan menimpaku… Kemudian saat bemper Bis tersebut tepat nempel di wajahku,,, Aku tersadar ternyata semua itu hanya lamunanku. Ternyata sekarang aku masih dirumah tua itu, melihat diriku sendiri di cermin. Aku lihat jam tanganku masih menunjuk angka 08.31, dengan penuh kesadaran, aku membujuk Devi untuk segera pergi dari rumah tua ini. Dia ketakutan dan dia juga memintaku untuk mengantarnya langsung pulang kerumah.

Akhirnya, sampai juga dirumah Devi dengan selamat, dia mengajaku untuk masuk dan diam dulu dirumahnya. Aku mau, karena aku akan Shalat Dhuha juga bareng keluarga dia. Di ruang tamu aku duduk dengan Devi, kami saling menceritakan semua hal yang dialami dirumah itu, aku menceritakan lamunanku, dia juga menceritakan yang dia alami. Ceritanya sama dengan apa yang dia ceritain saat aku berhalusinasi, namun kali ini dia bilang, kalau itu gak nyata, dan cuman halusinasinya dirumah itu. Dia ceritain kalau, dia sempat melihat keruangan gelap, dan melihat sesorang yang bersayap indah. Dan dia tinggal di sebuah tempat seperti Surga, bertahun-tahun dan abadi. Tapi, ketika dia hendak didorong ke kawah api (Mungkin itu Neraka), dan terjun kedalamnya. Dia tersadar kalau itu cuman lamunannya. Aku masih bingung dan belum mengerti, apa yang benar-benar terjadi, tapi karena aku banyak tugas dirumah, aku pamitan sama Devi dan keluarganya, aku langsung pulang kerumah.

Dirumah, aku masih memikirkan kejadian hari ini, terutama yang terjadi padaku. Aku pikir, apakah lamunanku dirumah itu, masa depan yang akan terjadi. Aku istirahat dan duduk dikursi melihat acara tivi. Aku coba liat berita dan aku kaget dan tidak percaya, kalau di lampu merah dekat seberang rumah tua itu, ada kecelakaan beruntun, yang disebabkan oleh dua Bis Pariwisata. Dan aku lihat waktu kejadianya pukul 09.59, dan memakan korban tewas 28 orang, temasuk para penyeberang jalan. Aku pikir, kalau Devi bersih keras seperti yang kulamunkan, korbannya pasti akan 30 orang, ditambah aku dan Devi. Tapi aku masih sulit memahami yang terjadi, rumah itu, Devi, dan petaka yang hampir saja menimpaku dan Devi hari ini. Hingga selama sebulan aku gak berani datang lagi kerumah itu, walaupun hanya melihat dari jauh.

Sampai terdengar berita, kalau rumah itu di bongkar dan diratakan, untuk dijadikan pemakaman umum. Aku penasaran dan pengen lihat, karena kabarnya, banyak korban kecelakaan yang tewas dimakamkan disana. Dan sampailah aku disana, ternyata kalau sudah rata, tempatnya menjadi kelihatan lebih luas. Aku lihat ada orang tua berpakaian hitam disana, aku hampiri dan dia berucap,”pemakaman ini dulunya adalah pemakaman juga”. Aku tidak mengerti, tapi aku mengobrol cukup banyak dengan dia. Hingga aku beranikan diri untuk menceritakan kejadian sebulan kebelakang, tentang aku, Devi, rumah, dan kecelakaan pukul 09.59. Dan aku tidak percaya, ternyata dia menanggapi ceritaku,”Semua yang kamu alami bukan takdir nak,, kamu memang belum waktunya untuk meninggalkan dunia ini, tapi jika kamu memang dapat melihat masa depan dirumah itu,,, itulah yang dianggap godaan setan,,, kamu harus berhati-hati, petaka dirumah itu tidak akan terjadi jika kamu tidak memasukinya”. Terus apa yang terjadi sama Devi,”Orang bersayap yang dilihat teman wanitamu, adalah jelmaan. Jika dia berpikir berada disurga dan dijatuhkan keneraka, artinya surganya setan adalah nerakanya tuhan, setiap orang harus berhati-hati dalam mengambil jalan pilihan”. Aku mengangguk, walaupun jujur sebenarnya aku kurang paham, apa yang dia ucapkan. Tapi aku pikir, itulah jalan yang ditunjukan tuhan dan aku harus menerimanya, mungkin itu pesan untuk jadi pelajaran hidupku.

Serentak aku tanggahkan kepalaku kelangit, aku lihat awan, dan aku rasakan angin sejuk dipemakaman itu. Aku rasa, sudah waktunya aku lebih banyak bersyukur, dan sudah waktunya aku lebih dekat dengan tuhan. Karena itulah cara terjauh dari petaka, dan hal buruk yang mencoba mendekatiku. Terakhir, aku lupakan semua yang terbelakang, dan aku coba semangat lagi untuk lari kedepan… THE END…

Minggu, 18 November 2012

→ PERGI KERUMAH TEMAN MALAM-MALAM ←



Halo saya Wisnu. Sebenarnya sudah lama saya baca-baca cerita di sini tapi baru kali ini saya kirim cerita. Mudah-mudahan gak Gaje dan menarik, dan ini pengalaman saya yang gak pernah saya lupakan...

Saat itu bermula ketika pertengahan tahun 2010 saat liburan Kenaikan kelas. Dan pas malam Jum`at Kliwon juga. Semua bermula ketika saya dan teman saya (sebut saja

si H) mau pergi ke rumah teman (sebut saja dia si I). Waktu itu waktu menunjukkan pukul 23.00 WIB. Kami pergi ke rumah I dengan jalan kaki karena motor kami saat itu dipakai orang tua kami pergi ke nikahan orang di kampung.

Ohh ya, jalan menuju rumah si I itu kanan-kirinya hutan jadi agak gelap gitu dan hutan itu terkenal angker gitu. Pertama kita jalan sih gak ada apa-apa. Tapi saat setengah perjalanan kami melihat ada kakek-kakek naik sepeda ontel dan tatapannya kosong gitu. Dan setelah dia melewati kami si H melihat ke belakang. Alangkah terkejutnya ketika dia tahu si kakek itu sudah gak ada. Lalu tanpa pikir panjang, kami langsung lari maling menjauh dari tempat itu.

Semuanya belum berakhir, waktu kita berhenti berlari kita melihat rumah kosong di kiri jalan. Dan di rumah itu ada 2 pocong di dalam rumah dan 1 kuntilanak di atas rumah. Untung kami cepat menyadarinya dan berlari sprint sambil berteriak "ALLAHU AKBAR", dan alhamdullilah mereka gak mengikuti.

Lalu setelah kami berlari ratusan meter jauhnya akhirnya kami melihat jembatan desa, di sana sudah banyak orang mancing dan pacaran. Dan disana pula kami melihat teman kami si I dan kami langsung menceritakan kejadiannya. Dan kata si I "Itu sudah biasa bro bagi orang-orang sini, tadi sebenernya aku kirimin Penjagaku untuk lindungin kalian dalam perjalanan kemari".

Dan ternyata karena itulah kami gak diganggu dan dikejar mahkluk halus di hutan itu. Semua itu karena Pegangan temanku yang mengawal kami, sehingga mahkluk halus itu gak bisa menyerang kami, dan kami bisa berlari dari mereka. Tapi semua itu gak akan bermakna juga tanpa izin dari Allah SWT.

• NAIK BUS HANTU •



ceritanya begini, saya pernah melakukan perjalanan dari Jakarta ke Semarang buat urusan kantor, tapi waktunya mendesak banget. Karena saya pikir ga mungkin dapet transportasi udara atau travel (saat itu pukul 12 malam) akhirnya saya memutuskan untuk naik bis AKAP. Awalnya sih biasa aja ga ada apa2, nunggu di cawang tapi agak serem sih, takutnya rampok tapi untung agak rame. Say
a tunggu setengah jam belum ada yg datang, sampai akhirnya saya agak mengantuk dan setengah sadar.

Ketika saya tersadar tiba-tiba keramaian tersebut menghilang dari hadapan saya, otomatis saya menjadi lebih waspada akan rampok. Beberapa menit kemudian dateng sebuah bus berwarna kuning yg bertujuan semarang menghampiri halte tempat saya menunggu. Ketika saya mau naik saya merasakan hal aneh karena bis itu tampak sangat lenggang bahkan, hanya 2 penumpang (saya dan kondektur). Ya sudahlah pikir saya mungkin lagi sepi, sekitar 10 menit kemudian saya setengah sadar lagi karena memang sejak awal agak mengantuk, lalu saya ingat menaruh tas di bawah untuk dipindahkan ke pangkuan saya.

Ketika saya mengambil tas ketika saya tengok samping ternyata ada penumpng seorang nenek2, sejak kapan pikir saya. Lalu pas mau tidur lagi saya merasa ada yg memperhatikan saya, ternyata ada sebuah bola mata yg menyeringai yang terlihat di antara sela2 kursi bus. "Ah paling anak kecil" dalam pikiran saya ketika saya melihat ke arah jendela (maksudnya yg arah atas kaca jd kan bs liat sebagian kebelakang).

Saya baru sadar semua orang di bus itu memakai baju putih kecuali saya disitu saya mulai merasakan sesuatu yg ganjil. Dan aku tersadar bahwa aku naik bus yang salah!! dalam hati aku berdoa semoga nenek itu idak mengajak aku berkomunikasi akhirnya saya menutup mata dan berdoa sepanjang perjalanan.

Tiba-tiba bus itu berhenti setelah 1 jam, lalu si kondektur berkata sudah sampai di semarang. Hah??? gila kali masa baru 1 jam. Tanpa pikir panjang saya turun daripada di makan setan, lalu bayar kondektur yang katanya cuma 1.000 rupiah kemudian saya di beri karcis seperti ini

DJAKARTA-SEMARANG
HARGA TIKET 1.000 RUPIAH
1956

Dan benar ternyata saya sampe di semarang. Tanpa pikir panjang langsung cari ojek menuju hotel yg sudah saya booking yang padahal untuk kesokan harinya. Malam itu juga saya ga bisa tidu

KISAH SERAM DI SMPN 109 JAKTIM



nubie mw nambah2 cerita blh yah??
maklumin aja klo blepotan ceritanya. maklum bukan penulis novel sih :D

ini cerita lama gw alamin sendiri. (sebagai saksi mata org kesambet setan) pas msh di 3 smp (smpn 109 jakarta timur), waktu itu kelas gw lagi kosong ditinggal rapat ama guru...trus tmn2 gw ngusulin bwt main jalangkung dgn cara pake media alat tulis "jangka".
....nah klo maen jalangkung gitu khan yg plg susah bwt cari orang yg mau megang mediumnya (jangka)...

melalui proses suit-menyuit antar 5 org cewe (DORA,NATASHA,3 org lagi gw lupa) akhirnya DORA kepilih bwt megang jangka-nya...
nah ritual manggil tuh jalangkung akhirnya dimulai dgn baca mantra "jalangkung...jalangse....blablablabla pulang ga dianter...

dalam waktu gak lama akhirnya tuh "jangka" mulai muter2 sendiri gak karuan <--tandanya yg dipanggil udah dateng... trus tmn2 gw mulai nanya pertanyaan2 standar anak SMP ke jelangkung (klo ga salah inget pertanyaannya):

1. sapa namanya ---> gw lupa
2. laki apa perempuan ---> laki
3. meninggal krn apa ---> hilang (mungkin tersesat digunung/hutan/laut)
4. si dora gmn jodohnya -- > lupa
5-selanjutnya pertanyaan bodoh anak SMP seperti nomer 4

nah....kejadian fatal tuh permainan mulai keliatan gak bener sewaktu DORA mw udahan dgn cara suruh pulang tuh jelangkung ...
TAPI.....pas disuruh pulang JANGKANYA MALAH MUTER2 SENDIRI DAN TANGAN DORA GA BISA NGELEPASIN SAMA SEKALI WALAU UDAH DIPAKSA AMA BANTUAN 2 TMN GW!!

kejadian jangka muter2 ditangan dora hampir 10 menit dan tmn2 gw lgs histeris semua ngeliat si DORA mulai ngeracau dan teriak2 "GIMANA NIH JELANGKUNGNYA GAK MW BALIK!! TANGAN GW DAH MULAI PEGEL.."

akhirnya tuh 1 kelas gw yg isinya kurang lebih 40 orang semuanya tiap2 org disuruh baca doa sesuai keyakinan masing2....dan beberapa org manggil guru agama di kantor (nah ini guru agak lama dtg gara2 lg rapat...ampe pada sebel 1 kelas ama nih guru)

setelah kurang lebih 15 menit "jangka" muter2 sendiri ditangan dora akhirnya bisa dilepas paksa dgn cara tangan dora dipukul ama tmn gw laki2 yg badannya waktu itu paling gede sekeras2nya ....
ANEHNYA...
"jangka" itu emang bisa kelepas tapi tangan dora gak bisa gerak sama sekali ..klo gw gambarin tangan DORA posisinya kyk adegan kate winslet pas dianjungan titanic pas adegan mirip terbang itu.
nah si DORA teriak lagi...."EH JGN GELAYUTAN DI TANGAN GW DONG!! PEGEL NIH" si dora bilang klo tangannya itu kyk dijadiin batang pohon tarzan bwt gelayutan....DAN ITU TERJADI KIRA2 10 MENIT...sampe guru agama sekolah gw dtg bwt ngatasinnya...dan ama guru agama gw si DORA cuma usap muka ama di pijet jari kakinya ama dibacain doa akhirnya tangan dora bisa turun kyk semula....walaupun pas moment turunnya tuh tangan dia si dora teriak kenceng bgt (dia cerita sih rasa sakitnya kyk serasa dipotong tuh tangan..serasa mw lepas gitu katanya tuh tangan dia)..

sejak itu kita2 satu sekolahan gak ada yg berani lagi maen gituan ampe lulus

• KUNJUNGAN KE VILLA SERAM DI DAERAH BOGOR •



hello lg... hehehehe... maaf nie, sbelumnya... Q suka bgt ma nie web (situs/web/blog ya...???). kren abiezzz... Q jd mo postingan lg... ok dehh...

Pagi itu, aku dan temen2 Q lagi olahraga. udaranya lagi sejuk sekali. Q dan teman2 Q ini lagi ada di Bogor. kita ngerayain keberhasilan kita dalam ujian nasional yg diselenggarakan beberapa hari yang lalu.

Q dan teman Q ini nginep di villa punya ortunya Amel. ga byar coey... wajarlah... sahabat anak sndiri gt... hehehe...

Kita smua pergi ke taman safari dulu bentar. jalan2. sama ortuny si Amel kita dikasih uang 2.244.500 ribu. tapi itu untuk kita ber-3. jadi, kita bisa bebas maen dan bergembira ria. kita maen di taman safari sampe saatnya safari malam. kita ga bisa ikutan liat, soalny, si Amel udah teler2an gara2 kecapekan,

"eh, plis Mel... kamu jgn capek..." kata Andin.

"org cape kok dilarang! gimana sih?!" bls Amel dengan kesal. dya klo udh kecapekan pasti bt.

"udahla Ndin. kan bisa besok... kita pulang hari jumat, skarang aja masih hari senin!" Q membela Amel. soalny, body-ny tuh gede bgt... klo pingsan bisa berabe nih...

"iya deh!"

lalu kita naek taksi menuju ke villa. pas nyampe di villa, Q sempet ngeliat ada bayangan org lewat didepan jendela kmr Q, Amel dan Andin. kita tidurnya bareng lohh... biar ga takut... hehe

langsung deh... langsung merinding... Q g mao masukin tuh villa. padahal, ruangannya tuh gede bgt, ada perapiannya, terus banyak sofa dan karpetnya.. pokokny keren deh. dapurnya juga ga kalah keren.

"Q ga mo msuk ah..."

"knp loe? bknny lo yg paling seneng masuk ni villa?" tanya Andin

"heheh, gpp kalee... mendingan loe masuk ja duluan. Q mo tenangin dri dulu..."

"y udh, cpt masuk y..."

"iya...." Q pun sndrian di luar. q tidak terlalu takut, soalny ada lampu yg terang banget disepanjang jalan. dan juga ada warung kopi deket taman villa ini. meski begtu, Q msih ngerasa g enak. masalahnya adalah... deket sini da pohon guedeeee... bgt. ih Q benci bgt ma tu pohon. emang sih, bisa bikin adem, tapi, masalahnya ada hantuny (kayaknya)! ih suer, Q g brani ngeliat kearah itu. Jadi q Ngebelakangin ntu pohon,n Q ngeliatin warung kopinya aja.

Aku pun terhanyut dlm suasana tenangnya malam... pas lagi asik2nya, ada yg nepok bahu Q. Q kira tu Andin. nyuruh Q masuk, eh ga tauny... ada JENG KUNTI...!!!
dya sempet ngomong, "Mbak... temenin saya yukk..." gitu katanya, "UUWAAAAAAA....!!!!"

wekz, gile... Q langsung ngicir masuk kedalam. orang2 yg da di warung kopi langsung ikut lari kedalam villa. pada nanyain ada apa.

"ada apaan de? kok teriak sih?"

"ada jeng kunti, pak.."

"oalah, gitu toh..."

"loh, pak, mksdny paan? kok malah lega...?"

"gak kok de. dya tu udh biasa muncul. dya cuma mo kenalan sama ade. ga usah takut. klo ade malah takut, ntar malah dikejar."

"ih, yg bener pak?!"

"bener de. bapak juga pernah ngalamin kok. tp itu udh dulu bgt de."

"oh gt... makasih pak."

"iy, sama2.."

lalu bapak itu dan temen2nya pergi lagi. y pergi ke warung tu lagi. mo ngopi lagi.

"Eh, suha, kamu udah gpp? kita tidur yuk, si Amel udh tidur duluan."

"iya. "

trus aku ma Andin gosok gigi dulu dikamar mandi.

lalu kita msuk k kamar. di situ, amel udh bener2 pules bobo-nya.

trus aku pun tidur. setelah kjadian itu, Andin, Amel juga ngalamin hal yg sama denganku. Mereka dikejarlah, didatangi lah. pokoknya serem. kapan2 Q critain lg. Akhirnya, kita besoknya pulang. padahal, kita rencananya mo pulang hari jumat. Semuanya udah pada ga tahan tinggal di situ. kita masuk ke mobil, mobil punya ortunya Amel. yang ngendarain Amel. kita semua masih agak bingung ma jalanannya. pas masuk mobil, mobil pun melaju pelan, si jeng kunti ngelambain tangan kekita. tapi, kok jeng kuntinya bisa keluar siang ya?

Entri Populer